sosok itu. ketika tidak pernah aku menemukannya. sebuah panggilan yang bermakna. pencarian yang sia-sia percuma dan nihil. antara mempertahankan atau mencari. ketika setiap mata memandang heran. ketika rumor merebak tidak pasti. ketika semua tanya ini menggantung. siapa aku siapa mereka. kenapa ada kehadiran yang ganjil tidak semestinya. keabu-abuan. kertas binder lusuh beberapa tahun lalu. bolu coklat dengan butiran chocochip. percuma. awal yang tak jelas dan akhir yang suram.
Permintaan Rani
Rani tiba-tiba pulang dengan muka muram. Bang Rio yang membuka pintu heran dibuatnya. Tumben adik bungsunya tidak cerah seperti biasa. Tak ada lagi teriakan riangnya, “Aku pulaaang...” Bang Rio benar-benar dibuat bingung. Rani datang tanpa mengucapkan salam. Langsung mengurung diri di kamarnya. Selepas sholah Dzuhur di masjid yang hanya dipenuhi oleh satu shaf, Bang Rio mengetuk pintu kamar Rani. “tok..tok..tok..abang boleh masuk?” Tak ada sahutan. Setelah diketok beberapa kali terdengar suara mengiyakan. Sang abang pun masuk. Kamar berukuran 3x3,5 meter persegi ini terlihat luas dengan furniturnya yang tidak banyak. Sebuah dipan panjang di pojok ruangan yang menempel di tembok, sebuah lemari pakaian di sisinya yang lain, dan sebuah meja belajar kecil dan kursinya yang berhadapan dengan pintu masuk. Di atas dipan itu Rani sedang tiduran sambil menghadap tembok. “Udah sholat Ran?” Bang Rio duduk di pinggir kasur, mencoba melihat muka Rani. “sholat dulu yuk, tar kita makan sambil no...
Komentar
Posting Komentar