Antara Pendidikan Formal dan Pendidikan Moral



“Wah udah kelas 3 SMP ya, pada mau masuk SMA mana nih?”
“SMA 3”
“SMA 5”
Itulah jawaban anak-anak SMPN 2 Bandung ketika saya mengajar Pesantren Kilat Ramadhan beberapa hari yang lalu. Tak heran kalau pilihan mereka adalah sekolah-sekolah grade atas, SMP itu pun termasuk sekolah cluster utama. Untuk memasuki sekolah-sekolah favorit dibutuhkan nem yang tinggi. Apa itu nem? Kita tahu, nem adalah Nilai Ebtanas Murni. Nilai hasil ujian akhir yang dijadikan patokan untuk memasuki sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Peserta didik berlomba-lomba dan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapat nem tinggi supaya dapat diterima di sekolah yang diinginkannya. Apalagi untuk sekolah-sekolah yang berada di cluster atas, mensyaratkan nem yang sangat tinggi. Misalnya untuk SMP cluster pertama, minimal nem rata-rata di atas 27. Itu berarti peserta didik harus mendapat rata-rata nilai 9 untuk setiap mata pelajaran yang diujiankan, dan tentu saja itu bukan hal yang mudah. Nemnya di bawah sedikit saja, ia tidak bisa masuk ke sekolah cluster atas, dan bisa jadi langsung terjun ke sekolah cluster di bawahnya.
Tingginya nilai nem tidak berbanding lurus dengan kualitas moral peserta didik. Kini bertebaran mereka yang memiliki nilai tinggi, belajar di sekolah favorit, tapi pendidikan moralnya jongkok. Mengapa masih ditemukan remaja-remaja yang mencontek? Tak perlulah melihat jauh kesana, lihat saja kondisi kelas kita, teman-teman kita, bahkan kita sendiri yang masih tengok sana tengok sini ketika ujian berlangsung. Lalu, masalah tawuran remaja yang rasanya tak ada habisnya. Setiap tahun selalu ada berita tentang keributan antar remaja dan faktornya seringkali hal yang sangat sepele. Permasalahan remaja bukan lagi hal aneh dan barang langka karena remaja adalah masa seseorang banyak memberontak dan labil. Salah satunya permasalahan moral. Remaja sekarang banyak yang tidak mengindahkan lagi aturan-aturan tak tertulis dalam berkehidupan. Misalnya ketika bergaul dengan orangtua, bagaimana sebaiknya ketika mengobrol, ketika memita sesuatu, dan ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu. Zaman dulu anak-anak tidak ada yang berani untuk membantah perintah orangtua tapi sekarang mereka justru dengan bangga membantah bahkan memperolok orang tuanya sendiri.
Ada kejadian yang bisa kita ambil pelajaran yang cukup dalam. Kejadian ini dialami oleh tetangga saya sendiri. Tetangga saya berusia mungkin sekitar 50an dan memiliki anak kembar yang salah satunya sudah berkeluarga. Ibu ini rajin sekali sholah Shubuh di masjid. Dan ada kebiasaan yang selalu dilakukannya ketika sholat di masjid. Pertama datang, ia menghamparkan dua sajadah, satu untuk anaknya, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Lalu beberapa lama kemudian anaknya datang dan sholat di atas sajadah yang ibunya hamparkan (mereka jarang datang bersama). Lepas sholat Shubuh biasanya ada kultum atau tausyiah, dan anak ini jarang mendengarkannya karena setelah sholat langsung bergegas pulang. Anehnya, ia pulang dengan meninggalkan sajadahnya begitu saja, dan sajadah itu dirapikan oleh ibunya setelah mendengarkan tausyiah. Untuk sekali dua kali mungkin kita mewajari, “mungkin ada urusan mendadak”, tapi hal itu terus dilakukan dan membuat keheranan. Anak ibu itu bukan anak kecil yang sering merengek-rengek ingin sholat dekat ibunya. Ia sudah dewasa bahkan berkeluarga, yang menurut saya perilaku itu kurang pantas untuk seusianya. Wallahu ‘alam.
Ada kejadian selanjutnya yang pernah saya dengar. Seorang yang telah lulus tapi akhirnya menganggur. Alasannya, ia selama ini bersekolah, bahkan kuliah karena tuntutan ibunya. Yang memilihkan jurusannya pun adalah ibunya. Akhirnya setelah ia lulus tidak ada lagi yang ingin dilakukannya. Menurutnya “apa lagi? Ibu mau saya kuliah, saya lakukan. Ibu mau saya lulus, saya lakukan,”  mungkin kasarnya seperti itu. Kini ia diam saja di rumah, tidur, makan, dan bermain. Bahkan tidak membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah.
Sungguh kasihan dan miris jika mendengar cerita-cerita seperti itu. Mereka yang telah dewasa secara fisik, tapi mentalnya jauh di bawah usianya. Kejadian seperti hal di atas bukanlah sesuatu hal yang baru dan langka. Banyak kasus seperti itu, bahkan yang lebih ‘gila’. Bukankah pendidikan sekarang mulai maju? Dan bukankah kini banyak sekolah-sekolah favorit yang menstandarkan nilai tinggi? Dimana letak kesalahannya.
Sebuah ungkapan, “jas merah” janganlah sekali-kali melupakan sejarah. Dengan mempelajari sejarah, kita mengetahui sebab kemunduran dan kemajuan bangsa. Mari kita tengok sekitar 1436 tahun yang lalu, yaitu zaman Nabi Muhammad SAW. Nabi adalah sosok yang harus kita jadikan suri tauladan. Perintah ini jelas termaktub dalam firman Allah di Alquran. Selain itu, juga tentu saja karena akhlaqnya yang luhur. Bayangkan, di usia mudanya beliau sudah mendapat gelar Al-Amin yang artinya yang terpercaya. Gelar itu tentu saja bukan main-main, beliau memang sosok yang selalu jujur hingga masyarakat Quraisy saat itu berani memberi gelar tersebut. Nabi SAW telah dilatih untuk mandiri dari usia yang sangat kecil. Beliau lahir dalam keadaan tidak memiliki ayah dan pada usia 6 tahun ibunya wafat, menjadikan beliau yatim piatu. Di usia ini Nabi diasuh oleh kakeknya dan diajarkan menggembala kambing. Sekilas mungkin pekerjaan menggembala adalah hal yang mudah namun jika belum menjadi kebiasaan dan terbiasa, ini menjadi hal yang sulit. Dua tahun kemudian kakeknya pun dipanggil oleh Allah SWT dan Nabi lalu diasuh oleh pamannya. Dalam asuhan pamannya, Nabi diajarkan pelajaran berdagang. Di usia sangat muda ini beliau sudah mengunjungi Syam mengikuti pamannya, kalau ibaratnya zaman sekarang, beliau sudah keluar negeri. Perdagangan beliau bukan jual-beli kecil-kecilan dan ‘ecek-ecek’, terlihat dari kesuksesannya. Bukti kesuksesannya bisa kita lihat dari mahar yang Nabi berikan untuk meminang Siti Khadijah pada usianya yang ke 25. Beberapa riwayat mengatakan maharnya berupa 25 ekor unta, ada pula yang mengatakan 85 ekor, dan ada pula yang meyakini maharnya 100 ekor unta. Anggap yang tersedikit saja, 25 ekor unta. Jika dihitung saat ini, rata-rata harga ekor unta minimal 10 juta rupiah. Jika 10 juta dikali 25 maka sudah 250 juta rupiah. Bayangkan, saat itu Nabi SAW masih berusia 25 tahun dan sudah bisa memberi mahar sebesar itu, Subhanallah.
Pendidikan yang dilakukan Nabi SAW bukan hanya diaplikasikan oleh beliau. Dilakukan pula oleh para sahabat. Umair bin Abi Waqash ikut serta dalam perang badar di usianya yang ke sembilan. Hal itu adalah keinginannya sendiri, walaupun Nabi SAW berulang kali melarangnya tapi ia tetap memaksa. Di usia yang sangat muda itu ia sudah berani untuk maju ke medan perang dan berarti ia sudah siap untuk Jihad fisabilillah. Lalu sahabat terdekat plus sepupu plus menantu Nabi sendiri, yaitu Ali bin abi Thalib. Ali masuk Islam pada usia 10 tahun, yang artinya ia telah mengerti sehingga meyakini ajaran Nabi SAW.
Selain yang dipaparkan di atas, masih banyak contoh pendidikan pada zaman Nabi SAW yang patut ditiru. Pendidikan Nabi menciptakan generasi yang tinggi ilmunya, tinggi pula akhlaqnya. Beberapa ratus tahun kemudian pun, banyak bermunculan ilmuwan-ilmuwan hebat dari golongan muslim, itulah salah satu faktor saat itu Islam pernah berjaya memayungi 2/3 dunia.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan kurikulum yang ada maupun pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum dibuat untuk mengarahkan agar pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Tapi mungkin beberapa oknum yang kurang bisa sesuai dengan seharusnya. Di lapangannya, banyak yang kecewa dengan kurikulum yang memberatkan yang sering kali kurang memperhatikan kondisi dan psikologis anak didik. Kemampuan peserta didik berbeda-beda tapi mereka dituntut untuk mengikuti pelajaran dengan standar nilai tinggi. Ketertekanan ini yang sering menyebabkan permasalahan di lingkungan remaja. Remaja adalah masa mencari jati diri dan dipenuhi dengan semangat yang menggebu-gebu. Jika tidak diarahkan, dan pembelajaran di sekolah hanya didominasi oleh guru yang bertindak satu arah, tentu saja tidak ada ruang bagi mereka untuk menyalurkan kreatifitas dan potensinya. Untuk itu, tidak sedikit remaja yang menyalurkannya pada hal yang salah, seperti tawuran, merokok, narkoba, dan pergaulan bebas.
Inilah PR besar bagi kita, para pendidik bangsa. Bagaimana generasi bangsa memiliki ilmu yang tinggi dan bukan hanya keenceran otak, juga skill agar mampu bersaing di dunia luar. Dan terutama yang terpenting selain kecerdasan intelektual adalah kecerdasan spritual dan kecerdasan emosional. Percuma jika nilai tinggi tapi moral jongkok. Percuma jika sekolah tinggi tapi tak pernah sholat. Begitu pun sebaliknya, rajin beribadah tapi tak tahu apa-apa juga bukan hal yang baik. Karena dalam hadits pun, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru