Setiap hari kusiram, kuberi pupuk, lalu kucabut. Esoknya kursiram lagi, kuberi pupuk, lalu kucabut lagi. Hal yang sama terus dilakukan dengan rutin. Cepat sekali tanaman ini tumbuh, dan cepat pula ia mati, meski ia tidak pernah benar-benar mati. Layaknya orang bekerja, ia segan untuk tumbuh tapi tak mau mati. Seharusnya aku cabut sampai ke akar-akarnya.
Postingan populer dari blog ini
Seteru Satu Guru
Buku yang ditulis oleh Haris Priyatna ini bercerita tentang 3 pemuda yang bertemu di sebuah rumah indekos di Jl. Peneleh Gang VII, kediaman guru yang dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota, HOS Tjokroaminoto. Berpusat pada Soekarno, disini diceritakan bagaimana kedekatan Soekarno dengan Musso ataupun Soekarno dengan Kartosoewirjo. Seperti pada judulnya, buku ini menceritakan seorang guru hebat yang ditakuti lawan dan dicintai kawan-kawannya. Keteladanan sifat dan keluasan ilmunya mempengaruhi tiga pemuda yang kini kita kenal sebagai pemimpin besar dengan mimpi yang sama, mewujudkan Indonesia merdeka, walau pada akhirnya mereka masing-masing berada di jalan berbeda. Buku ini membawa kita pada asal muasal pemikiran Soekarno. Bibit awal semangat revolusi dan minatnya pada orasi. Tidak seperti membaca buku sejarah yang membosankan dan membuat kantuk, justru terasa seru karena dikemas menjadi novel. Tapi tidak juga menghilangkan nilai nilai sejarah di dalamnya. Bagus dibaca oleh...
Komentar
Posting Komentar