Belajar dari Kupu-Kupu

Kita tahu kupu-kupu adalah hewan yang cantik, karena ia memiliki sayap yang indah. Banyak pujangga yang mengagumi keindahannya sehingga hewan yang satu ini dijadikan inspirasinya membuat syair. Dibalik keindahannya, ada perjuangan yang harus ia lewati untuk mendapatkan itu semua. Sayap yang indah tersebut bukan ia dapatkan dari lahir tapi melalui proses. Dahulu ia hanyalah seekor ulat yang buruk dan sering dicemooh karena rupanya yang jelek dan sifatnya yang dianggap mengganggu. Tapi si ulat bersabar menghadapi itu sampai pada waktunya ia menjadi kepompong. Menjadi kepompong bukan hal yang mudah. Ia harus rela diam dan bergelung dalam waktu yang lama. Menahan dirinya tidak makan, minum, dan bermain keluar. Jika ia tidak bisa menahan dirinya, maka proses ‘saum’nya gagal dan ia tidak bisa menjadi kupu-kupu yang indah. Setelah godaan yang cukup berat dan hari-hari telah ia lewati, akhirnya masa itu berakhir. Kepompong akan membuka dan munculah seekor kupu-kupu yang cantik. Kini tidak ada lagi yang mencemoohnya dan ia bebas terbang kemanapun ia mau.
Kita bisa mengambil pelajaran dari cerita kupu-kupu ini. Keberhasilan seseorang tidak didapat dari sesuatu yang tiba-tiba dan ajaib. Ia harus mengalami proses panjang yang tidak mudah. Segala hambatan pasti akan ditemuinya. Kemalasan, persaingan, ancaman, dan semua itu tidak datang dari satu arah saja. Tapi siapa yang bersabar dan menahan diri untuk tidak menyerah, dialah yang akan menuai kesuksesan. Seseorang mengatakan, “keajaiban adalah nama lain dari kerja keras.” Begitu pun dalam berwirausaha. Tidak banyak orang yang mau untuk terjun dalam dunia ini, karena banyak resiko yang harus diterima. Dalam praktiknya pun, banyak yang berhenti di tengah jalan karena tidak kuat dengan segala masalah yang dihadapinya. Bagi mereka yang memiliki jiwa pantang menyerah, ia akan terus mencoba dan mencoba. Walau gagal ia akan bangkit dan jika ada masalah, ia tidak lari justru mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru