Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2014
sosok itu. ketika tidak pernah aku menemukannya. sebuah panggilan yang bermakna. pencarian yang sia-sia percuma dan nihil. antara mempertahankan atau mencari. ketika setiap mata memandang heran. ketika rumor merebak tidak pasti. ketika semua tanya ini menggantung. siapa aku siapa mereka. kenapa ada kehadiran yang ganjil tidak semestinya. keabu-abuan. kertas binder lusuh beberapa tahun lalu. bolu coklat dengan butiran chocochip. percuma. awal yang tak jelas dan akhir yang suram.

"hey kamu dimana?"

kukira kejadian seperti ini hanya ada di film atau hanya dialami orang-orang tertentu saja. ternyata aku pun mengalaminya :D sore itu, aku diminta mewakilkan ketua umum untuk tekmit terkait expo ukm bersama teh fia. sampai di kampus tepatnya menjelang adzan ashar. tadinya mau ke perpus buat cari buku yang diminta teman, ternyata perpusnya tutup maka langsung saja kulangkahkan kaki menuju masjid. beberapa mahasiswa berseragam terlihat di selasar, koridor, dan tempat wudhu. ada sedikit sesal karena aku tidak datang dari pagi. kalau aja aku bangun lebih pagi dan seragamnya udah kering, tentu aku bisa lihat maru juga, yahsudahlah. usai sholat ashar, aku memilih duduk di belakang sambil menunggu jam 4 sore. kulihat layar hp dan tidak ada sms yang masuk. langsung saja kusms teh fia. tak beberapa lama sms terkirim, ada panggilan masuk dari nomor yang sama. "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" "jadi sal rapatnya?" "ohiya hayu teh" "salma dimana...
garuda. puing. batu.jaket. tas. sepatu. bangku.pulpen. pensil. buku. kertas. mic. undian. botol minum. garuda itu serasa mengolokku yang terus membenamkan muka di balik tas. dia mengejekku yang sedang terluka. mulutnya menyeringai sadis. ada kilatan dalam sepasang mata yang membuatku bergidik ngeri. bukannya memberi solusi, ia malah membuatku ingin segera berlari. lari dari semua realita. ah aku jadi ingat nama salah satu calon adik tingkatku. nama yang mendengarnya tersenyum simpul. yang menyadarkan kita bahwa ini nyata dan benar adanya. takdir yang telah digariskan pada setiap adam dan hawa dan tentu saja yang ada di hadapan sang garuda. penuh angkuh ia tertawa. tanpa suara
di balik puing itu ada sebuah cerita. cerita 15 agustus 2014. bukan cerita bahagia apalagi mendebarkan. bukan pula lelucon ataupun mistik. ia cerita yang menyimpan perih. luka yang pernah tertutup kembali menganga. penyesalan yang telah terlupa membayang memutarkan slide-slide hari itu. senyumku beberapa detik lalu menguap bersama acuhanmu. di balik tatapan sang garuda aku hanya tertunduk. sebuah palu godam serasa menghantam, sakit. sesakit inikah kejadian hari itu? seperti inikah rasa kecewanya?

11 agustus

kamu emang ga cocok buat selfie karena ga mau selfie tahukah? betapa susahnya mencari fotomu di setiap album adaa saja halangannya. mukanya yang ketutupan tangan, yang burem, lagi manyun hahaha ada-ada saja memang dalam kamus hidupmu mungkin tak ada jaim apa adanya itulah hidupmu terserah orang mau bilang apa, asal kau nyaman melakukannya senyum simetris itu selalu ada di setiap pagi sampai malam pun, ia masih bertengger disitu koneksimu selalu speedy :D tapi di balik semua kecerianmu ada duka yang tersimpan rapat erat selama enam tahun setelah oktober ini mungkin genap tujuh sakit yang kau pendam tahunan itu tak banyak yang tahu tak ingin banyak orang tahu kepedihanmu biarlah mereka tahu apa yang terlihat di balik tawamu aku tahu ada tangis tertahan di balik candamu aku tahu ada kecewa yang semakin membesar entah sampai  kapan senyummu kan memudar tak inginkah kau lepas semua? biarlah semua itu kau enyahkan saja, karena hanya masa lalu masa lalu yang akan ter...

10 agustus

Kubuka lagi layar ponsel. Tak ada. Balasan yang kutunggu tak kunjung datang. Masih kusimpan draft-draft yang tak pernah kukirim. Usang dan membusuk dalam foldernya. Kubaca lagi setiap hurufnya, ada sesal yang menggantung, ada sedih menggelayut. Masih beberapa jam lalu semuanya menghangat. Tawa terselip dalam canda. Dendang itu masih kuputar merdu. Tapi deringanku menghancurkan semua. Balasanmu tak ada jua. Hangatmu menguap tak lama. yang tersisa tinggal kecewa Beban ini terasa bertambahnya ketika akhirnya yang kutunggu tiba. Bukan ucapan sedih apalagi marah. Justru ia masih bisa tersenyum sejuk. Senyum yang dipaksakan di sela terik ini. Tinggal kutermenung sendiri. Dihinggapi sesal dan marah pada diri

1000 Maaf

Jika aku punya 1 maaf akan kuberi Jika aku punya 10, 100, bahkan 1000, akan semua kuberi untuk kaka Bukan dengan sengaja itu terjadi, tapi karena kebodohan Karena aku bodoh, mengecewakanmu Karena aku ceroboh, menyakitimu Setelah ini, semua mungkin tak ada Tak ada sapa ramahmu di muka jendela Tawa berderaimu di ujung pagi Salam semangatmu meski senja berpamit Kaka kutau kau marah Tak perlu kau dengar alasannya Suaramu langsung suram di ujung sana Kutau kau kecewa Tak ingin lagi dengar apapun Maka kutitip maaf ini untuk kaka Hanya berharap penerimaan itu ada Hanya 1000 maaf Untuk kaka di ujung toga Dengan doa~

BUBUDAKEUN

Gambar
bubudakeun pisan. walaupun udah segede gini, tapi ampuun kalo udah ngumpul ributnya gada duaaa, ga enak deh sama tetangga hehehe

Antara Pendidikan Formal dan Pendidikan Moral

“Wah udah kelas 3 SMP ya, pada mau masuk SMA mana nih?” “SMA 3” “SMA 5” Itulah jawaban anak-anak SMPN 2 Bandung ketika saya mengajar Pesantren Kilat Ramadhan beberapa hari yang lalu. Tak heran kalau pilihan mereka adalah sekolah-sekolah grade atas, SMP itu pun termasuk sekolah cluster utama. Untuk memasuki sekolah-sekolah favorit dibutuhkan nem yang tinggi. Apa itu nem? Kita tahu, nem adalah Nilai Ebtanas Murni. Nilai hasil ujian akhir yang dijadikan patokan untuk memasuki sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Peserta didik berlomba-lomba dan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapat nem tinggi supaya dapat diterima di sekolah yang diinginkannya. Apalagi untuk sekolah-sekolah yang berada di cluster atas, mensyaratkan nem yang sangat tinggi. Misalnya untuk SMP cluster pertama, minimal nem rata-rata di atas 27. Itu berarti peserta didik harus mendapat rata-rata nilai 9 untuk setiap mata pelajaran yang diujiankan, dan tentu saja itu bukan hal yang mudah. Nemnya di bawah sed...

Belajar dari Kupu-Kupu

Kita tahu kupu-kupu adalah hewan yang cantik, karena ia memiliki sayap yang indah. Banyak pujangga yang mengagumi keindahannya sehingga hewan yang satu ini dijadikan inspirasinya membuat syair. Dibalik keindahannya, ada perjuangan yang harus ia lewati untuk mendapatkan itu semua. Sayap yang indah tersebut bukan ia dapatkan dari lahir tapi melalui proses. Dahulu ia hanyalah seekor ulat yang buruk dan sering dicemooh karena rupanya yang jelek dan sifatnya yang dianggap mengganggu. Tapi si ulat bersabar menghadapi itu sampai pada waktunya ia menjadi kepompong. Menjadi kepompong bukan hal yang mudah. Ia harus rela diam dan bergelung dalam waktu yang lama. Menahan dirinya tidak makan, minum, dan bermain keluar. Jika ia tidak bisa menahan dirinya, maka proses ‘saum’nya gagal dan ia tidak bisa menjadi kupu-kupu yang indah. Setelah godaan yang cukup berat dan hari-hari telah ia lewati, akhirnya masa itu berakhir. Kepompong akan membuka dan munculah seekor kupu-kupu yang cantik. Kini tidak a...