Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Dunia

Kupunya dunia. Dunia yang mungkin kamu tidak tahu. Mungkin mereka tidak tahu. Mungkin hanya segelintir tahu. Atau bahkan tidak seorang pun tahu? Dunia yang hanya ada aku, aku dan aku. Nah, berapa orang itu, kau bisa menghitungnya? Cukup banyak kan. Dunia penuh emosi. Peredaman jiwa. Antara tangis dan tawa tak ada sekat. Kebuncahan bahagia dan tangis haru. Mulai dari kelinci manis melompat riang sampai monster jahat di dunia game. Mulai dari tergelak sampai meraung-raung. Mulai dari perangkap masa lalu sampai harapan kosong masa depan. Bergumul jadi satu tanpa bisa diurai dan dicari ujungnya. Hanya benang wol kusut. Biar kusulam saja jadi syal biar indah. Biar berguna. Biar ada karya. Biar saja dunia ini tidak mengenal waktu. Tapi ia biasa datang saat langit menghitam. Tak jarang pula langit masih terang atau sedang menangis. Datang tiba-tiba tanpa rencana dan kesimpulan, tidak pula dengan perumusan masalah. Tidak, karena dunia ini tidak sistematis. Dia punya ceritanya sendiri. Ketik...

Kuingin Kembali Menulis

"Kuingin kembali menulis" judul yang menimbulkan pertanyaan, "memangnya selama ini kemana? memangnya selama ini tidak menulis?" hhmm.. ya, biar kujawab "iya" kemanakah aku? pertanyaan untukku sendiri. terjebak dengan masa lalu. terlalu banyak mimpi tanpa aplikasi. makanya, malam ini atau tepatnya dini hari ini aku ingin kembali menulis. entah ya, walaupun sama sekali berbeda dengan niatan sebelumnya untuk begadang malam ini. tapi.. kembali pertanyaan dan keraguan memenuhi pikiranku. apa yang harus kutulis? hhmm beberapa hari  yang lalu sudah berlembar-lembar tulisan kok, kugoreskan ke kertas besar dua lembar bergaris yang di depannya terdapat logo. yakalii.. itu mah   ngisi soal UTS. apa aku harus bikin pertanyaan untuk setiap tulisan yang akan kubuat? soalnya kalau ngisi UTS, dengan tangan itu lancar banget  geraknya. giliran mau nulis cerpen, nah lo kok yang ada jalan buntu. di depan mata cuma ada layar ms word yang putih bening tanpa noda dan bayang...

MANA SISIR?

Gambar
Pernah gak punya suatu benda yang bikin ga bisa “move on”. Yang bikin kita ga mau dan jangan sampai benda itu hilang. Kalau sampai hilang, benda itu akan kita cari terus sampai ketemu. Di keluargaku nih, ada satu benda yang seperti itu, namanya sisir. Kita ga beri nama apapun hanya biasa menyebutnya sisir ungu karena sesuai dengan warnanya. Semua orang di rumah ga mau nyisir kalo ga pake sisir itu. Lebay banget ya? Kedengerannya sih iya, tapi itu bener banget loh. Setelah mandi, “sisir mana? Sisir mana?” padahal di depan matanya ada beberapa sisir (itu mata kemana wkwk *lol). Jujur aja, kalau aku ga mau nyisir kalo ga pake sisir itu mening ga nyisir deh. Kalau dibilang sih sisir di rumah ada banyak banget. Ada yang warnyanya pink, kuning, hijau, merah, biru, tapi ga ada yang kita sentuh selain sisir ungu ini kecuali emang bener bener bener   ga ada tuh sisir. Misalnya, ketika sisir ini ga langsung ditaruh lagi pada tempatnya dan bikin serumah pada nyari. Tapi mau hilang bagaiman...

Muhammad

Masih pantaskah kumengaku cinta? Ketika kisahnya tidak lagi kubaca Masih pantaskah kumengaku rindu? Ketika namanya pun kini tak menggetarkan kalbu Masih pantaskah kumengaku sebagai umatnya Ketika AlQuran kini hanya sebagai hiasan kantong semata Dia, yang namanya tak pernah lekang digerus zaman Yang kisahnya tak pernah mati hingga saat ini Kekasih Allah, akhlakmu AlQuran Berbudi pekerti agung Sampaikan bait-bait cinta pembawa kebenaran Dan menyelamatkan dari kesesatan Salma Nur Afifah Desember, 2013

Pengorbanan yang Terbayar

Malam gelap. Aroma tanah basah bekas hujan tadi sore masih tercium dengan jelas. Emak memandang keluar jendela yang masih terbuka. Semilir angin menerpa wajahnya menyibakkan selendang abu-abu yang sudah terlihat usang yang dikenakannya. Pikirannya melayang bersama embusan angin dingin. Masih terngiang jelas dalam memorinya pesan Ustadz Oemar, yang juga suaminya.             “Mak, jaga anak-anak jika saya sudah tiada. Ikhlaskan kepergian saya ya Mak jika memang sudah waktunya. Ini demi perjuangan bangsa kita.” Saat itu Emak tidak sadar bahwa itu adalah ucapan terakhir menjelang ajal sang suami.             Ustadz Oemar adalah seorang ulama yang disegani yang juga merupakan penggerak di daerah Pamarican ini. Orasi-orasinya yang keras rupanya terdengar oleh para pembesar yang tidak suka dengan gerakan semacam itu, namun mereka tidak menggubrisnya. Ustadz Oemar dan rekan-rekann...

Pesan dari Dunia Lain

“Zakiyah!” “Hah?” aku menengok, tumben amat Fani yang lagi dengerin MP3 manggil. “Ntar sore main sepeda yuk ke Perumahan baru. Hah? Bingung deh aku, emang udah kegiatan rutin bagi kami main sepeda keliling kompleks setelah pulang sekolah. Gak biasanya dia ngomong dulu kayak gini. “Ya emang kita suka main sepeda kan?” tanyaku sambil melihat kanan kiri saat menyeberang jalan raya yang cukup ramai. Fani mengekor dari belakang. “Iya sih, aku mau ngajak ke Perumahan baru aja, tau gak, ada cerita misterius lo dari sana.” Jawabnya seraya melepas headset yang dari tadi ‘nangkring’ di kedua telinganya. “Misterius apaan?” tanyaku ogah-ogahan, sebenernya aku males ngobrol sekarang, suasananya sedang tidak mendukung. Tapi aku gak enak juga liat Fani kayaknya serius banget sampai ngelepas headsetnya segala, ngebela-belain nggak denger lagu J-Rock kesayangannya. “Kamu tau kan perumahan yang baru dibangun di sebelah kompleks kita? Katanya, setelah semua rumahnya dibangun, tukang-tukang kulinya hilan...

Kenangan di Pagi Buta

Oleh: Salma Nur Afifah Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Laras mengusap peluh yang berceceran di keningnya. Entah mengapa mimpi itu datang lagi malam ini. mimpi yang terus-menerus dan menjadi genap empat kali dengan hari ini. Laras menarik selimutnya, merapatkan tubuhnya yang terasa dingin akibat udara di kamar yang lembab. Ia pun terpejam kembali. Belum beberapa lama, ia kembali bangkit dengan detak jantungnya yang berdegup cepat. Bayang-bayang seseorang di mimpinya tidak mau hilang. Menyerah, Laras bangkit dan mengambil sebuah kotak di kolong dipannya. Sebuah kotak pandora, kotak yang memberi arti untuk hidupnya. “Rass...” “Iya buu.. bentaaar..” “Aduh aduh anak ibu, ayo cepet sarapan. Kasian Mas Egi kalo nungguin terus.” Laras cepat-cepat mengambil piring dan menangkupkan nasi dengan lauk pauk. Sarapan Laras pagi ini cukup nikmat, dengan sayur asam, ikan asin, sambal, kerupuk, dan nasi hangat yang asapnya masih menge...

Permintaan Rani

Rani tiba-tiba pulang dengan muka muram. Bang Rio yang membuka pintu heran dibuatnya. Tumben adik bungsunya tidak cerah seperti biasa. Tak ada lagi teriakan riangnya, “Aku pulaaang...” Bang Rio benar-benar dibuat bingung. Rani datang tanpa mengucapkan salam. Langsung mengurung diri di kamarnya. Selepas sholah Dzuhur di masjid yang hanya dipenuhi oleh satu shaf, Bang Rio mengetuk pintu kamar Rani. “tok..tok..tok..abang boleh masuk?” Tak ada sahutan. Setelah diketok beberapa kali terdengar suara mengiyakan. Sang abang pun masuk. Kamar berukuran 3x3,5 meter persegi ini terlihat luas dengan furniturnya yang tidak banyak. Sebuah dipan panjang di pojok ruangan yang menempel di tembok, sebuah lemari pakaian di sisinya yang lain, dan sebuah meja belajar kecil dan kursinya yang berhadapan dengan pintu masuk. Di atas dipan itu Rani sedang tiduran sambil menghadap tembok. “Udah sholat Ran?” Bang Rio duduk di pinggir kasur, mencoba melihat muka Rani. “sholat dulu yuk, tar kita makan sambil no...

Seragam

“Maa aku mau yang itu..” “yang ini? kegedean de” “ngga maa cukup” “liat tangan kamu, harus digulung.” “ih gapapa cuma dikit kok digulungnya. Ya mah yaa? Coraknya bagus banget ade sukaa..” “nanti lagi yuk liat yang lain.” Ade merenggut kesal. Rengekannya dari tadi tidak membuahkan hasil. Ade cuma mau baju itu. Baju yang coraknya lucu sekali. Kombinasi capung dengan nuansa merah muda. Baju yang sering dipakai teman-temannya biasanya warnanya itu-itu saja, kalau ngga coklat atau krem. Makanya, saat ke pasar baru bareng mama tadi, ade langsung kepincut sama baju lucu tadi. “de, makan yuk” Tidak ditanggapinya panggilan mama. “ Mama masuk ya.” Mama duduk di pinggir kasur. “Kamis ini pake baju yang kemarin lagi aja ya.” Kebijakan di sekolah ade, hari kamis semua memakai seragam bebas asal khas dan nasionalis. Sudah beberapa bulan lalu ade memakai baju yang sama untuk hari kamis. “ade kan bosen ma pake baju coklat itu terus.” Mama tersenyum, “kan bajunya kegedean.”...

Sore

Biar kuceritakan sebuah sore, dengan buku dan moccacino Di antara yang lapar dan penunggu setia Kukisahkan cerita manis semanis minumanmu Ada semangkuk lega dari setiap koma Batu yang kita lihat tadi tak seberapa hanya sepersekian saja Hanya sepotong hari kita tanpa rencana, tanpa awal, tanpa akhir bahkan tanpa tujuan Hanya sejeda dari perjalanan hidupmu Mengenang masa-masa indah dulu Bahkan sampai petang berpamitan dan bulan mulai menyapa Ceritaku masih panjang Biar kukisahkan hingga titik tak pernah ada Di sabtu malam ini bersama tiap tetes yang menyapa bumi Maret, 2015

Rabu Pagi

Ratusan menit tlah berlalu semenjak bedug shubuh tiba Kokok ayam berkejaran menyambut pagi jutaan orang di luar sana telah bergumul dengan asap dan polusi Berebut mencari sesuap nasi dan derajat diri Ribuan anak duduk manis di belakang bangku mereka dengan pandangan lurus menghadap board Para sopir dan kenek angkutan umum berlomba mencari muatan Para pedagang pasar telah berkeringat bahkan dari dini tadi Ketika sinar matahari menyerobot masuk Tapi kau tak bergeming dengan buntalan selimut hangat Keras starter motor tetangga sebelah tak hilangkan kantukmu Kepulan asap masakan tak hiraukan penciumanmu Kain selimutmu terlalu tebal Mimpi indahmu terlalu panjang. Tayangan favoritmu pagi ini sudah terlewat Dering alarm bangun pagi sia-sia sama sekali Apa yang sudah kau lakukan sesiang ini? Bandung, 8 Februari 2015

Cerita Cita

Aku mau jadi dokter kata sisi aku guru kata cici kata budi Katamu enak jaga loket dapat uang terus Kamu jadi apa katamu Ani mau jadi pilot aku jadi masinis kata ina Katamu enak jaga parkir suka nyuruh-nyuruh Kamu jadi apa katamu Aku jadi insinyur kata lia aku tentara eka bilang Katamu enak bikin rumah main pasir terus Kamu jadi apa katamu Sasa mau jadi pengusaha aku jadi artis kata nisa Enak penjual eskrim katamu makan eskrim sepuasnya Kamu jadi apa katamu Aku mau sekolah ke eropa kata edi aku ke jepang kata mardi Enak jaga taman bermain katamu main ayunan sepanjang waktu Kamu jadi apa katamu Lintang mau punya pabrik mobil aku pabrik pesawat kata indra Katamu enak ojeg payung hujan-hujanan tanpa dimarahin Kamu jadi apa katamu Surya mau jadi   polisi buyung mau punya hotel Katamu enak jaga warnet main game sepuasnya Kamu jadi apa katamu Kata susi mau jadi apoteker Aku guru ngaji kata Sholehah Katamu enak reparasi rumah manjat-manjat ...

Angkutan Kota

Di balik asap knalpot dan bau menggeram lapar Berembuk peluh berlomba detak jam dan jantung Berjudi bertaruh nasib Tak kenal siapa kita berdesakan Disana Di atas jalan beton yang tak bertahan lama Tinggal menunggu waktu akan keropos ia Kerjaan para korupsi jalan Disana kita Bergumul dengan keringat dengan gelisah Berharap waktu berhenti dan kembali Di bayang ada harap kosong Andai ini itu siapa tahu Saling lirik sama nasib Ini waktu punya siapa Disana kita Di tengah balok-balok angkuh Dalam balutan baja dan tangan-tangan besi Genggam kuasa di atas para tunawisma Hanya kita yang masa bodoh Peduli siapa kita punya urusan Ini waktu punya siapa Disana kita Di antara detik di antara kesempatan Di tempat penuh kejutan dan warna-warni Paling mahal di antara yang mahal Ketidakpastian Kecemasan Kegelisahan Siapa peduli? Ada orang urusan punya Bandung, 9 Februari 2015