Permintaan Rani
Rani
tiba-tiba pulang dengan muka muram. Bang Rio yang membuka pintu heran
dibuatnya. Tumben adik bungsunya tidak cerah seperti biasa. Tak ada lagi
teriakan riangnya, “Aku pulaaang...” Bang Rio benar-benar dibuat bingung. Rani
datang tanpa mengucapkan salam. Langsung mengurung diri di kamarnya. Selepas
sholah Dzuhur di masjid yang hanya dipenuhi oleh satu shaf, Bang Rio mengetuk
pintu kamar Rani. “tok..tok..tok..abang boleh masuk?” Tak ada sahutan. Setelah
diketok beberapa kali terdengar suara mengiyakan. Sang abang pun masuk. Kamar
berukuran 3x3,5 meter persegi ini terlihat luas dengan furniturnya yang tidak
banyak. Sebuah dipan panjang di pojok ruangan yang menempel di tembok, sebuah
lemari pakaian di sisinya yang lain, dan sebuah meja belajar kecil dan kursinya
yang berhadapan dengan pintu masuk. Di atas dipan itu Rani sedang tiduran
sambil menghadap tembok.
“Udah
sholat Ran?” Bang Rio duduk di pinggir kasur, mencoba melihat muka Rani.
“sholat dulu yuk, tar kita makan sambil nonton Ashhabul Kahfi lagi, lanjutin
yang kemarin.” “Udah mau tamat lo ceritanya. Abang penasaran nih sama
Maximilianus sama temen-temennya. Ketangkep gak ya, mereka. Lagi tegang banget
kemarin.” Sang abang masih berusaha mencari perhatian adiknya, yang dari tadi hanya
diam saja. Setelah beberapa lama Rani bersuara, “Bang, pindah yuk.” “pindah?
Rani ga betah di sekolah?” Rani membalikkan tubuh, menghadap abangnya, “bukan
bang.. pindah rumah.” Bang Rio sedikit terkejut dengan permintaan Rani yang
tiba-tiba. Adiknya bukan tipe orang yang muluk-muluk jika meminta sesuatu,
setidaknya permintaan itu tidak terlalu sulit untuk diwujudkan. Tapi kali ini?
“kok
tiba-tiba pengen pindah rumah? Emang Rani pengen pindah kemana?” “yang rumahnya
gedee. Ada halamannya luaaas, punya pohon mangga, rambutan, kaya rumahnya Arif.
Atau yang ada tamannya kaya di rumah Asri. Bagus loh Bang ada kolam ikannya,
ikan koi, warna-warni, ada bunga merah, putih, ungu, terus rumputnya
ijo...banget bisa buat tiduran loh Bang.”[i]seperti
biasa Rani mendeskripsikan dengan penuh semangat. Bang Rio sedikit tersenyum
melihat Rani tidak semurung tadi, dia mulai kembali seperti Rani biasa yang
ceria dan selalu tersenyum. “ooh.. emang
rumah kita kurang besar ya Ran?” Rani mengangguk. Abangnya terlihat berpikir, seolah-olah
mempertimbangkan permintaan gadis kecil di depannya. “Oke deh, abang pikirin
dulu yaa tar diobrolin sama ibu sama ayah. Sekarang Rani sholat yaa..” Rani
mengiyakan, mengikuti perintah abangnya.
Setelah
sholat, mereka duduk di depan televisi untuk menonton Ashhabul Kahfi, dengan
piring beserta makanannya di tangan mereka masing-masing. Di layar kaca sedang adegan seorang raja lalim
sedang duduk di singgasananya yang sangat mewah. “Wiih Ran, liat istananya gede
banget ya.” Rani mengangguk-angguk dengan makanan penuh di mulutnya. “Ckck,
Rasulullah aja gak segede gitu istananya.” “Emang istana Rasulullah segede apa
Bang? Tapi pasti lebih gede dari rumah Rani deh.” Bang Rio tersenyum. “Mau
tahu?” Rani mengangguk lagi, kali ini dengan semangat. “cerita dong..Abang
belum cerita nih yang ini.” Rani selalu senang mendengar cerita abangnya.
Selalu rame dan tidak disangka-sangka, sering membuat Rani terperangah. Bang
Rio mem’pause’ film yang sedang diputar lalu memperbaiki posisi duduknya, siap
bercerita.
“Rani
tahu Umar bin Khattab kan? Salah satu sahabat Nabi.” Rani mengangguk-angguk
lucu, Bang Rio pun melanjutkan. “Suatu hari, beliau mendatangi rumah Nabi. Tahu
apa yang beliau lihat? Beliau mendapati Nabi sedang tidur di atas tikar yang
kasar. Badannya sampai penuh dengan bekas tikar yang kasar.” “Kok Nabi tidurnya
gitu? Lagi kepanasan kali Bang.” Rani bertanya polos. “Bukan Ran, Nabi tidak
ada kasur di rumahnya, bukan karena kepanasan. Karena saat itu Umar tidak
melihat apapun di rumah Nabi selain tiga kulit buat alas tidur. Bayangin, Nabi
saat itu adalah pemimpin umat Islam, yang ibaratnya raja. Tapi beliau hidup
sangat sederhana, rumahnya tidak mewah seperti para raja-raja lain” Rani
mengangguk-angguk tanda mengerti. “Emang anak-anak Nabi gak ada yang protes
Bang?” “tentu tidak, karena Nabi sudah mengajarkan dari sejak dini. Mengajarkan
hidup sederhana dan saling berbagi. Karena kebahagiaan kan bukan didapat dari
seberapa besar rumah kita, semewah apa barang-barang di dalamnya, tapi
kebahagiaan ada saat kita kumpul bareng, ngaji bareng, sholat berjamaah, masak
bareng, iya nggak?” Rani terdiam, mencoba meresapi kata-kata abangnya.
“Jadi..menurut
abang, kita gak usah pindah rumah?” Rani teringat permintaannya tadi pada
abangnya. “Hhm..kalo menurut Rani?” Bang Rio bertanya sambil tersenyum. “Iya
sih Bang, Arif suka bilang kalo rumahnya ga rame gara-gara jarang ada orang di
rumahnya. Enakan disini, selalu ada Abang, Teh Dian, Teh Mia, Ibu, Ayah. Gak
jadi deh bang pindahnya. Tar Rani gak bisa main lagi sama Rara, gak bisa pergi
bareng ke madrasah lagi.” Rani menyimpulkan sambil menyuapkan makanan ke
mulutnya. Bang Rio sekali lagi tersenyum. Alhamdulillah, Rani mudah mengerti.
Memang, permintaannya gampang saja dianggap lalu, apalagi hanya permintaan anak
kecil. Tapi tetap saja sang abang merasa perlu untuk memberi pemahaman pada
adik kecilnya.
Komentar
Posting Komentar