Pengorbanan yang Terbayar

Malam gelap. Aroma tanah basah bekas hujan tadi sore masih tercium dengan jelas. Emak memandang keluar jendela yang masih terbuka. Semilir angin menerpa wajahnya menyibakkan selendang abu-abu yang sudah terlihat usang yang dikenakannya. Pikirannya melayang bersama embusan angin dingin. Masih terngiang jelas dalam memorinya pesan Ustadz Oemar, yang juga suaminya.
            “Mak, jaga anak-anak jika saya sudah tiada. Ikhlaskan kepergian saya ya Mak jika memang sudah waktunya. Ini demi perjuangan bangsa kita.” Saat itu Emak tidak sadar bahwa itu adalah ucapan terakhir menjelang ajal sang suami.
            Ustadz Oemar adalah seorang ulama yang disegani yang juga merupakan penggerak di daerah Pamarican ini. Orasi-orasinya yang keras rupanya terdengar oleh para pembesar yang tidak suka dengan gerakan semacam itu, namun mereka tidak menggubrisnya. Ustadz Oemar dan rekan-rekannya semakin berani. Dengan sembunyi sembunyi mereka melakukan gerakan rahasia ke daerah-daerah. Memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang merupakan mimpi bagi setiap warga Indonesia.
            “Ini Negara kita! Tanah kita! Hak kita, rakyat Indonesia! Para ontek-ontek Belanda dan Jepang itu penjajah! Pencuri! Yang telah merampas hak kita semua!!” teriakan Ustadz Oemar sering terdengar di mesjid-mesjid, bahkan di alun-alun. Para oknum berwajib kewalahan, Ustadz Oemar dijadikan target. Berpindah ke rumah-rumah bahkan daerah sudah menjadi camilannya sehari-hari.
            Dan hari itu pun tiba, seminggu yang lalu atau tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1945 yang bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan. Shubuh  hari, saat Emak dan kedua putranya sedang bersiap-siap akan melaksanakan Sholat Shubuh. Pintu rumah digedor keras. Seisi rumah dibuat kaget. Fathan si sulung yang membukanya dan alangkah kagetnya ia, ketika pintu dibuka, 3 orang berseragam mendorong masuk, membuat Fathan terjengkang dan jatuh ke tanah. “Mana Oemar??” salah seorang dari mereka berteriak lantang, matanya merah menyalakan kebencian. Mukanya keras tak ada tanda-tanda kelembutan. Ketiga orang pemilik rumah terdiam ketakutan. Peluh sudah membasahi wajah ketiganya. Emak meremas-remas mukena, bibirnya terkatup rapat . Tidak mendapat respon atas pertanyaannya, Si Mata Merah bertambah berang. Diobrak-abriknya seluruh rumah bersama 2 orang yang tadi mengikutinya dari belakang, yang juga berwajah keras. Emak hanya bisa terdiam memandangi rumahnya yang porak-poranda. Fathan berusaha menenangi adiknya yang menangis ketakutan. Setelah merasa puas meluapkan emosi, para oknum bejat itu keluar dengan seringai menyeramkam. “Oemar! Ajalmu telah dekat! Tunggu saja!” teriakan Si Mata Merah membahana, mendirikan bulu roma yang mendengarnya. Emak lemas, dihempaskan tubuhnya pada dipan yang sudah tak berwujud.
            Hari ini, 15 Agustus, terdengar kabar Oemar ditemukan tak bernyawa di daerah Kuningan. Dikabarkan, tubuhnnya sudah tak berbentuk, seperti di mutilasi. Emak pingsan mendengar kabar mengerikan itu. Setelah siuman, ditenangkannya anak-anaknya yang tak berhenti menangis. Ia mencoba tegar menguatkan dirinya dan anak-anaknya. Para tetangga dan kerabat menjenguk dan berusaha menghibur keluarga yang dilanda duka itu. Sore harinya, jasad Ustadz Oemar dikebumikan menghadap Yang Maha Kuasa. Emak tak berani melihat jasad suaminya. Dalam gubuknya, Emak dan kedua putranya terus beristighfar dan berdoa, memohon agar Ustadz Oemar diterima di sisi-Nya.
            Tak sadar, butiran butiran air keluar dari kedua mata Emak. Sungguh sangat berat mengikhlaskan kepergian suami yang sangat dicintainya. Dulu Emak adalah orang awam, orang polos yang tidak mengerti akan arti sebuah kebebasan. Ketidakmengertiannya itu yang membuatnya menjadi orang yang pasif, sampai hadirlah Oemar dalam kehidupannya. Yang sifatnya berbanding terbalik dengan dirinya. Ia harus rela ditinggal lama, dibiarkan sendiri mengurus anak-anak yang saat itu masih kecil-kecil. Namun, di balik pengembaraannya yang panjang, Oemar seringkali menyelipkan salam rindu atau ucapan-ucapn penguat yang membuat Emak tegar hingga saat ini.
            Tes! Butiran itu jatuh lagi, bergulir tidak mulus di kedua pipinya. Usianya yang telah lanjut dan penantiannya yang panjang membentuk keriput-keriput yang tak sedikit. Matanya menengadah menatap langit yang tak berbintang, langit yang kelam, sekelam hatinya saat ini.
            “Mak,” tangan basah menyentuh pundaknya, membuyarkan segala lamunannya. Emak segera menghapus cepat-cepat air mata yang sudah membasahi pipinya. Emak menoleh. Dipandanginya wajah putra sulungnya, ada rona kelelahan dalam gurat-gurat wajahnya, yang mengingatkan Emak pada Ustadz Oemar. Ah, kau begitu mirip dengan bapakmu nak, ucap Emak dalam hati. “Kita tarawih bareng yuk Mak!” suara serak keluar dari bibirnya yang kering. Emak tahu, di Bulan Ramadhan yang bertepatan dengan musim paceklik ini, Fathan jadi jarang minum, ditambah kegiatannya yang sibuk mengajar di surau. “Sudahlah Mak, jangan pikirkan Bapak terus, Bapak pasti sudah tenang di alam sana.” Fathan mencoba menghibur Emak, rupanya dia merasakan kesedihan yang belum juga sirna dari kedua mata ibunya, walaupun Emak sudah berusaha untuk menutupi itu. Emak hanya tersenyum, diseretnya langkah menuju keluar rumah, ke arah sumur untuk mengambil air wudhu. Tak ditangkapnya sorotan mata Fathan yang ganjil, yang hendak mengatakan sesuatu.  
            Dalam kegelapan malam yang hanya disinari oleh lampu minyak yang remang-remang, kedua sosok tenggelam dalam kekhusyuan, menghadap Dzat yang Maha Tahu, yang mampu mendengar setiap keluh kesah hamba-Nya. Suara orchestra binatang malam mulai terdengar ramai. Si kecil Said sudah terlelap dari tadi, mendengkur lembut. Wajahnya polos tak mengerti akan semua yang terjadi, yang menimpa Bapaknya.
Dini hari, kecipak air di luar membangunkan Emak, Fathan sudah bangun rupanya.  Emak keluar untuk ikut berwudhu. “tumben kamu bangun duluan nak,” Emak tersenyum lembut, diusapnya wajah Fathan yang basah. Fathan terdiam, kikuk dipandang sedemikian rupa oleh ibunya, ada sesuatu yang dirasa penting oleh Fathan yang harus segera disampaikan pada Emak. Mulutnya sudah bergerak untuk memulai, namun diurungkannya niat itu. Dibiarkannya Emak berwudhu dan masuk ke rumah. Fathan mengekor dari belakang. Setelah sholat sunnat witir, mereka bersaur, tidak lupa Emak membangunkan Said.  “Mak,” Fathan mengumpulkan keberanian, berusaha untuk mengatakan sesuatu yang sudah mengganjal di hatinya semenjak kemarin sore. “Apa nak?” Tanya Emak tak menoleh, ia masih sibuk menyuapi Said yang rewel tidak mau makan karena masih mengantuk. “Fathan.. Fathan mau pamit Mak”, tenggorokan Fathan tercekat. Emak menoleh, dihentikannya suapan terakhir Said, diletakannya mangkuk di pangkuannya. “Pamit kemana nak?” Emak bertanya, ada nada khawatir dalam pertanyaannya itu. “Ada panggilan dari surau, dari Ustadz Yusuf.” Fathan tak berani ,memandang wajah emaknya. Emak sudah mengerti arah pembicaraan Fathan, saat ini memang sedang ramai pemberontakan dari surau-surau yang menagih janji para politik Jepang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, namun tak ada respon lebih lanjut dari para pembesar itu. Aktivis-aktivis surau semakin gencar, ditambah mereka memanfaatkan kondisi Jepang yang kini sedang lemah dikarenakan penyerahan mereka terhadap sekutu pada 14 Agustus lalu. Emak menyadari itu. Ia merasakan ghiroh semangat yang membara dari putra sulungnya, seperti yang ia rasakan dari mendiang suaminya. “Jangan bilang kau akan menyusul bapakmu.” Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulut Emak. Benar, dari hati yang terdalam Emak tidak rela harus melepas Fathan, Emak belum kuat jika harus terluka untuk kedua kalinya. “Fathan akan kembali kok Mak, Fathan tidak mungkin meninggalkan Emak dan Said berdua saja. Fathan janji.” Ucapan Fathan tulus, ada telaga di matanya yang ditahannya untuk tidak mengalir. Emak menggigit bibir tidak tahu harus berkata apa.
            Panggilan itu datang dengan sangat tiba-tiba. Baru beberapa saat setelah pemakaman Ustadz Oemar, Fathan dipanggil untuk ke daerah Lakbok bersama para aktivis surau lain untuk menyuarakan protes mereka. Fathan tidak bisa menolak, pun dengan alasan karena kematian bapaknya. Akhirnya dengan tekad yang kuat dan niat demi bangsa ini, Fathan menyanggupi panggilan itu. Dibekali doa Emak yang tak putus-putus, Fathan berangkat bersama rekan-rekannya.
            17 Agustus 1945, Jum’at Legi, 9 Ramadhan 1364. Emak baru selesai sholat Shubuh, dilipatnya sajadah usang-yang merupakan satu-satunya kenangan dari Ustadz Oemar- dan diletakannya dengan rapi. Ketika akan memulai membaca AlQuran, Emak merasakan déjà vu, nostalgia, kejadian 9 hari yang lalu terulang kembali. Pintu rumah digedor keras. Belum sempat Emak berdiri, pintu sudah didobrak secara paksa. Si Mata Merah yang sama dengan yang kemarin. Telunjuknya menunjuk-nunjuk Emak, tergambar jelas kemurkaan yang membludak dari matanya. “Heh Nenek tua! mana anak sialanmu itu? belum kapok kau setelah suamimu mati? kini kau kirim anak yang sama edannya dengan bapaknya itu?” sumpah serapah keluar dari mulutnya  yang berbau alcohol, logat bataknya terdengar jelas menggambarkan pribadi orangnya yang keras. Emak bingung, tidak tahu harus berbuat apa. “sudah capek aku mengurus keluarga gila ini, kemarin bapaknya, lalu anaknya, apa kamu akan ikut-ikut juga nenek?” Si Mata Merah menggeram marah, kali ini ia sendiri. Mengetahui pencariannya tak berhasil, ia segera angkat kaki dari rumah itu sambil mulutnya tak henti-henti mengeluarkan kata-kata kasar. Emak terus beristighfar, air mata mengalir deras di kedua pipinya.
            Siang hari, saat matahari sedang sepenggalahan, terdengar kabar bahwa di Jayakarta sana telah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia tepat pada pukul 10.00 WIB oleh Ir. Soekarno. Emak terbengong-bengong. Dipandanginya tetangga-tetangganya yang bersuka cita menyambut kabar gembira itu. Emak tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih karena hingga saat ini putra sulungnya belum terdengar kabar apa-apa.  Tapi Emak tidak mau berprasangka buruk dulu, ia yakin putranya kini sedang berada di tempat yang aman. Dalam sujudnya yang panjang, Emak menangis, memohon kepada Rabb agar selalu menjaga putra sulungnya. Namun selain itu, hatinya juga bersyukur akhirnya bangsa ini meraih kebebasan, yang merupakan cita-cita mulia warga Indonesia, cita-cita seorang lelaki tegar yang rela melepas istri dan kedua anaknya demi mewujudkan mimpi yang tidak ia rasakan sepanjang hidupnya.

Oleh:
Salma Nur Afifah

SMAT Baiturrahman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru