Kenangan di Pagi Buta


Oleh: Salma Nur Afifah

Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Laras mengusap peluh yang berceceran di keningnya. Entah mengapa mimpi itu datang lagi malam ini. mimpi yang terus-menerus dan menjadi genap empat kali dengan hari ini. Laras menarik selimutnya, merapatkan tubuhnya yang terasa dingin akibat udara di kamar yang lembab. Ia pun terpejam kembali.
Belum beberapa lama, ia kembali bangkit dengan detak jantungnya yang berdegup cepat. Bayang-bayang seseorang di mimpinya tidak mau hilang. Menyerah, Laras bangkit dan mengambil sebuah kotak di kolong dipannya. Sebuah kotak pandora, kotak yang memberi arti untuk hidupnya.
“Rass...”
“Iya buu.. bentaaar..”
“Aduh aduh anak ibu, ayo cepet sarapan. Kasian Mas Egi kalo nungguin terus.”
Laras cepat-cepat mengambil piring dan menangkupkan nasi dengan lauk pauk. Sarapan Laras pagi ini cukup nikmat, dengan sayur asam, ikan asin, sambal, kerupuk, dan nasi hangat yang asapnya masih mengepul. Cepat-cepat Laras menghabiskan makanannya. “Laras pergi bu.. Assalamualaikum.” Setelah mencium tangan ibu, ia segera melesat keluar rumah menghampiri kakaknya yang sudah menanti.
Setiap pagi Laras dan kakaknya berangkat bersama dengan tujuan berbeda. Laras di usianya kini yang 11 tahun, menuju sekolah dasar yang tidak jauh dari rumah. Sedangkan kakaknya, Egi, menuju alun-alun yang jalannya searah dengan sekolah Laras. Ekonomi keluarga mereka yang bisa dibilang ‘pas-pasan’, tidak memungkinkan satu-satunya kakak Laras untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pukul 7 pagi kurang tiga puluh menit lebih sekian detik, Laras membuka tasnya dan duduk di kursi kelas yang sudah menua.
“Laraaaas.. selamat pagi..wah tumben kamu berangkat pagi ”
“Pagi Raan, haha perbaikan dong. Kasian Mas Egi kalau nungguin aku terus.”
“Bagus, bagus, tingkatkan.”
“Ran, PR indo udah? Liat dong hehe.”
“Heuh, yang satu ini nih yang belum berubah.” Laras terkekeh sendiri.
Rani, teman sebangku Laras yang selalu datang lebih dulu darinya. Mau sepagi apapun Laras berangkat dari rumah ia tidak pernah lebih dulu sampai daripada teman sebangkunya ini, Laras jadi sering ‘greget’ sendiri.
“Ras, liat deh aku beli gantungan kunci. Liaat lucu kan.” Rani tiba-tiba menyodorkan gantungan berbentuk bintang. “wah lucu, beli dimana? Mau ih”
“Mau? Nih buat kamu.” “Loh?” “Eh beneran, udah nih ambil aja.”
“Yehee, makasih Raan..” teman sebangkunya itu tersenyum.
Ah, Rani. Dalam waktu yang seperti ini pun Laras masih mengingatnya. Laras membuka kotak pandora hati-hati. Ada sesak yang menyergap. Mengapa rasanya seperih ini? Ia angkat perlahan gantungan yang sudah mulai karatan saking seringnya dipakai. Hingga beberapa bulan yang lalu, Laras tak sanggup lagi untuk memakainya. Terlalu banyak kenangan indah yang sakit untuk diingat. Ia tak pernah lagi bisa bertemu dengan sang pemberi gantungan bintang itu. Setiap surat yang ia kirimkan tak pernah berbalas dan teleponnya tak pernah terdengar jawaban di ujung sana. Rani, apa kabarmu disana?
Suara derap langkah anak-anak bergema di setiap koridor kelas. Dering lonceng tanda masuk kelas berkejaran dengan suara kicauan murid yang tidak juga berhenti. Tak beberapa lama, begitu guru-guru masuk ke setiap kelas, keributan itu mereda sendiri.
“Selamat pagi anak-anak..” seorang guru masuk ke kelas VI-B. “Selamat pagi bu..” anak-anak menjawab kompak dan semangat. Hari itu pelajaran bahasa Indonesia dimulai dan ibu guru berkacamata yang selalu tersenyum ramah itu memberi tugas mengarang dengan tema ‘cita-cita’.
Cita-cita? Hhm.. sebuah kata sederhana yang sangat sering didengar Laras. “Ah aku tak pernah punya itu. Cukup lulus dari sini, aku bisa lebih senggang untuk membantu ibu berjualan nasi kuning atau membantu Mas menjaga tokonya Pak Ateng. Atau, merantau ke kota menyusul Bi Iyah yang berangkat setahun lalu.”
“Kamu nulis apa, Ran?” laras penasaran dengan apa yang ditulis temannya.
“banyak, bentar, nanti kamu baca ya.” Rani masih fokus dengan tulisannya. “Ah males, tulisan kamu panjang gitu.”
Rani tertawa. “cita-cita aku banyak sih. Aku pengen sekolah tinggi terus jadi profesor, insinyur, terus jadi guru, ngajar anak-anak kurang mampu, anak-anak yang ga bisa sekolah, anak-anak yang penyakitan...” Rani terlihat sangat antusias hari itu, “kalau kamu, Ras?”
“Aku? Hmm.. aku mau bantuin ibu..”
Detak jarum jam mendominasi suara kamar berukuran  2x3. Para jangkrik telah menyelesaikan orkestranya beberapa jam yang lalu. Sesunyi ini, terdengar isak tangis tertahan. Sang pemilik suara terus-menerus berusaha menghapus air matanya yang mulai bercucuran. Di tangan kecilnya kini tergenggam selembar kertas lusuh yang tintanya sudah pudar. Namun cerita di dalamnya tak akan pernah pudar.
Empat tahun yang lalu, ketika lapangan upacara masih sepi dan petugas kebersihan masih sibuk menyirami rumput, di bawah pohon rindang.
“Laras, aku udah baca karangan kamu. Kamu ga bakal lanjutin sekolah?” Rani langsung to the point. Laras menggeleng malas, malas menanggapi.
“Ras, temenin aku masuk SMP ,yaaa?” Rani memberi senyum termanisnya.
“Ah Ran, buat apa? Ujungnya aku tetep bakal bantuin ibu sama Mas di pasar.”
“Yaaah, kalau ga ada kamu siapa yang duduk di samping aku nanti, siapa yang mau dengerin cerita aku lagi.” Kini Rani memasang wajah cemberut, bibirnya sengaja ditariknya ke depan.  “Ayolah Raas.. nanti kamu sepulang sekolah tetep bisa bantu ibu kamu kok. Kalau kamu sekolah nanti kamu bisa buka rumah makan. Jadi ibu kamu ga capek lagi.”
“Sok tahu kamu Ran, kata siapa. Ga semua orang yang sekolah, bisa sukses.”
“Eh, itu kata kakek aku. Manjur loh perkataannya.” Pagi itu kami berdiskusi alot sampai bel masuk berbunyi.
Bukan hari itu saja Rani memaksa temannya untuk ikut bersamanya melanjutkan sekolah. Rani yang sangat bersemangat dengan cita-citanya menjadi guru dan Laras yang masih bingung akan tujuannya ingin menjadi apa, keduanya akhirnya masuk ke SMP yang sama. Bujukan Rani berhari-berhari ternyata berbuah manis.
Mereka belajar seperti biasa. Pelajaran di SMP tentu saja tidak semudah pelajaran sebelumnya. Mereka perlu belajar ekstra dan saling membantu untuk terus bertahan. Satu tahun awal yang sempurna. Meski tidak berada di ranking awal, keduanya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tahun kedua ternyata tidak semulus sebelumnya. Mulai ada rasa malas bahkan absen tidak terisi sempurna, khususnya Rani. Mulai banyak kehadiran kosongnya yang membuat Laras heran.
“Ran, kemarin ga masuk lagi? Kenapa?”
“hehehe ketiduran.” “Yah, itu mulu alesannya. Minggu kemarin ketiduran juga. Masa harus aku samperin ke rumah buat bangunin?”  mendengar tawaran temannya, Rani hanya tertawa kecil.
            Sikap Rani yang berubah-ubah terus membuat Laras bingung. Ter    kadang ia sangat semangat untuk belajar bahkan tak jarang ia menginap di rumah Laras demi mengerjakan tugas. Namun di lain waktu ia sering mengeluh pusing atau malas sehingga cepat pulang ke rumah.
Pernah dalam satu minggu Rani tidak masuk sekolah tanpa memberi kabar sedikitpun. Hal ini menyebabkan Laras sedikit marah dan tersinggung karena merasa tidak dipercaya. Rani hanya berulang kali menjelaskan alasannya dan berulang kali pula meminta maaf. Alasannya, ia diajak pamannya ke luar kota untuk beberapa waktu dan tidak punya kesempatan untuk memberi kabarnya kepada Laras. Walaupun sedikit dongkol, Laras akhirnya memaklumi hal itu.
“diajak paman ke kota, hah?” “Ga ada alesan yang lebih bagus dari pada itu apa.”
            Suatu sore menjelang maghrib,
“Laraas.. ada tamu.” “Siapa Mas?” “Itu liat aja di depan. Ada teteh-teteh.”
Laras segera menghentikan pekerjaan rumahnya dan menuju ke teras rumah.
“Assalamualaikum, Laras.” “Eh.. Mba Par, ada apa Mba? Raninya mana?” Ternyata Mba Par, kakak sulung Rani.”
“Hhmm.. Laras lagi sibuk ga? Ikut Mbak sekarang yuk. Ketemu Rani.”
            “untuk apa, Ran? Untuk apa semua usahamu membujukku untuk sekolah? Aku tidak pernah punya niat untuk sekolah tinggi bahkan cita-cita pun aku tidak punya. Hanya sebagai followers yang aku bisa. Kau masuk SMP itu, aku pun sama. Kau ikut kegiatan pramuka, aku ikut. Kau ikut lomba mewarnai, aku ikut juga. Aku tidak pernah punya tujuan dan target apa yang harus aku lakukan. Itu kau seharusnya seorang siswa sejati. Bahkan dengan penyakit yang terus menggerogotimu pun kau terus berjuang untuk tetap masuk sekolah. Di usia yang sangat belia, kau sudah memahami pentingnya sekolah, lebih tepatnya karena kau menyenanginya. Kau tidak mau waktumu yang hanya sebentar terbuang sia-sia. Berangkat sepagi mungkin dengan persiapan ekstra, tugas terselesaikan dan materi pelajaran selanjutnya. Betapa sang calon guru masa depan sudah terlihat dari kedua bola matamu. Sekolah bukan lagi tempat kungkungan seperti yang dirasakan banyak sekolah. Bagimu sekolah ada duniamu. Meski beberapa hari kau tidak bisa masuk karena harus menjalani terapimu, tapi itu bukan suatu halangan besar. Hari selanjutnya kau sudah duduk manis kembali di sebelahku. Tanpa menghilangkan senyummu, kau hanya berkata tidak ada apa-apa dan mengoceh kembali seperti hari-hari biasa.

Sekarang apa? Tidak ada lagi celotehanmu yang masih ingin terus kudengar. Hari ketika kakakmu memanggilku, adalah hari terakhir aku melihat sahabat terbaikku. Badanmu yang sudah sangat kurus dan sinar matamu yang mulai meredup, tanpa senyuman menghilang dari wajah ramahmu. Terasa getir melihat tumpukan buku di sebelahmu. Dalam kondisi seperti itu kau masih terus belajar. Aku malu, sungguh sangat malu dengan diriku sendiri yang terpuruk dan tak ada lagi semangat untuk sekolah. Mungkin ini alasan kau terus datang dalam mimpiku. Agar aku bisa menerima semuanya dan bangkit kembali. Dan mulai detik ini pun aku akan berhenti menyuratimu.”     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru