Pesan dari Dunia Lain
“Zakiyah!”
“Hah?” aku menengok, tumben amat Fani yang lagi dengerin MP3 manggil. “Ntar
sore main sepeda yuk ke Perumahan baru. Hah? Bingung deh aku, emang udah
kegiatan rutin bagi kami main sepeda keliling kompleks setelah pulang sekolah.
Gak biasanya dia ngomong dulu kayak gini. “Ya emang kita suka main sepeda kan?”
tanyaku sambil melihat kanan kiri saat menyeberang jalan raya yang cukup ramai.
Fani mengekor dari belakang. “Iya sih, aku mau ngajak ke Perumahan baru aja,
tau gak, ada cerita misterius lo dari sana.” Jawabnya seraya melepas headset
yang dari tadi ‘nangkring’ di kedua telinganya. “Misterius apaan?” tanyaku
ogah-ogahan, sebenernya aku males ngobrol sekarang, suasananya sedang tidak
mendukung. Tapi aku gak enak juga liat Fani kayaknya serius banget sampai
ngelepas headsetnya segala, ngebela-belain nggak denger lagu J-Rock
kesayangannya. “Kamu tau kan perumahan yang baru dibangun di sebelah kompleks
kita? Katanya, setelah semua rumahnya dibangun, tukang-tukang kulinya hilang
semua, dikabarkan diculik sama penghuni daerah situ yang jaman dulunya hutan.
Terus ya, kalau kita kesana sepi... banget! gak ada suara sama sekali.” Fani
berhenti sejenak untuk menarik napas. “Terus ya, pernah ada kejadian, seorang
bapak mau beli salah satu dari rumah disana. Tau gak? Ketika bapak itu membuka
pintu kamarnya, ada KUNTI di atas kasurnya!!”
Aku melonjak kaget. “Hah? yang bener?” tanyaku tak percaya, aku memang
tak begitu percaya dengan hal begituan. “ Iya serius! Makanya kita buktiin nanti
sore, mau gak?” ajaknya bersemangat. Hhm... berlagak mikir, akhirnya…”Oke deh!”
kita lihat nanti sore!
Sore itu, kami
sudah bersepeda di Perumahan Asri, daerah kami yang nyaman dan sejuk. Jalanan
terlihat ramai, banyak anak-anak maupun orangtua yang lalu lalang. Kebanyakan
sih anak-anak yang sedang bersepeda seperti kita ini, aku dan Fani. Kami saling
bersenda gurau di atas sepeda masing-masing. “Fan, balapan yuk sampai ke pohon
besar itu! Yang kalah harus traktir mie ayam. Yak, 1...2...3...!!” teriakku seraya
mengayuh sepeda kencang-kencang. “Eh...licik! udah duluan!” Fani menyusul dari
belakang sambil mengomel-ngomel. “Horee... aku duluan! Asyikk… mie ayam jangan
lupa pake baso ikannya ya!” sorakku riang. Aku tergelak melihat mukanya yang
menyon menyon. Fani cuma mesem. Tapi tiba-tiba mukanya langsung berubah.
“Kenapa Fan?” aku langsung menoleh ke arah pandangan matanya. “Ssst... dengerin
deh, kayak ada suara tau.” Ucapnya berbisik. Aku bingung, jalanan memang tidak
seramai tadi, tapi masih ada beberapa orang yang lalu lalang, jelas masih
terdengar banyak suara. “Suara apaan
sih? Emang banyak suara kali disini.” “Bukaaan…suara nyanyian, denger deh!”
“Aku langsung menajamkan pendengaranku, suara nyanyian? “Eng...enggak ada tuh,
nyanyian kayak gimana sih Fan?” Anak itu diam saja,”Eh ada bau melati…” Deg!
Bulu romaku merinding. ”Fani! Apaan sih?! Jangan nakutin gitu deh.” “Serius!
Cium aja sendiri”, mukanya kelihatan pucat. “Jadi gimana Fan? Mau dilanjutin
main sepedanya?” tanyaku hati-hati, melirik mukanya yang terlihat sangat
serius. Sejenak ia berpikir, “Oke kita lanjutkan.” Aku mengangguk dan kami
melanjutkan perjalanan.
Kami sampai di
sebuah perumahan yang memang menjadi tujuan kami dari awal. ‘Perumahan Mekar
Sari’ namanya. Rumahnya besar-besar dan bagus-bagus. Semua coraknya sama,
catnya putih tulang dan warna pagarnya juga putih. Ada yang bertingkat 2,
bahkan 3. Kupikir, pemiliknya haruslah orang kaya dan bersih, dan punya banyak
waktu untuk mengurus rumah-rumah sebesar itu.
Namun, semakin
dalam kami memasuki perumahan, semakin sepi suasananya. Kami sampai di sebuah
tempat yang tak ada orang sama sekali, bahkan tak terdengar kicauan burung pun.
Aku mulai merinding. “Fan, kok ada ya perumahan begini sepinya, memang ada yang
mau beli?” tanyaku memecah kesunyian. Fani hanya mengangkat bahu, serius
memperhatikan rumah–rumah yang katanya ‘misterius’ itu. Sebel digondokin, aku
merajuk, “Fani, ngomong dong... serem
nih ga ada suara apapun.” Fani mendelik kesal, “Manja! kayak anak kecil aja sih
kau, penakut!” katanya galak. “Ye... siapa yang takut? Aku cuma capek tau ke
tempat beginian gak ada kerjaan! Ngapain coba? Kamu sih... tadi ngajak-ngajak
segala. Mending tadi aku main sepeda aja deh sama Dian, sama Putri!” kataku sebel,
ni orang kok jadi sensi gini sih? “Oh... jadi kamu gak mau? Kenapa gak bilang
dari tadi? Kamu juga kan yang tadi bilang mau! Oke! Aku jalan sendiri, ya udah
sana pulang!” Fani jadi sewot. Suasana jadi memanas. Dia segera mengayuh
cepat-cepat sepedanya meninggalkanku. “Baik aku pulang!” teriakku tak kalah
sewot. Kubalikkan arah sepeda dan kukayuh cepat-cepat. Iya ya, ngapain juga aku
mau diajak si Fani ke tempat aneh begini. Hh… tapi dalam hati, sebenernya aku
nyesel juga terpisah gini. Serem lo, mengayuh sepeda sendiri di perumahan sepi
gini, mana katanya ‘misterius’ lagi! Ah sudahlah! Aku menepis bayangan-bayangan
negatif dan mengayuh cepat-cepat, berharap perjalanan tak akan lama lagi.
Tapi… hey! Ada
persimpangan! Tunggu dulu, seingatku tadi tidak ada persimpangan tiga seperti
ini. Ah mungkin lupa. Aku segera membelokkan sepeda ke kanan. Kupikir kalo aku
salah dan menemukan jalan buntu, aku bisa kembali lagi dan mengambil jalan yang
lainnya. Namun setelah lama bersepeda, aku tak menemukan jalan ataupun jalan
buntu. Jalanan masih terbentang sangat panjang. Dan sebelnya, tau gak? aku tuh
bosen liat rumah-rumahnya sama semua. Gak pada kreatif apa ya? Kenapa sih
rumah-rumah di setiap perumahan itu selalu sama? Gimana kalau ada kejadian
salah masuk rumah, ih malu banget kali ya. Aku terkikik sendiri.
Tidak berapa
lama, tiba-tiba aku bertemu persimpangan lagi. Nah lo! Bingung, akhirnya aku
memutuskan kembali lagi ke persimpangan awal. Langit sudah terlihat senja,
kulirik jam di tangan kiriku, pukul 5 tepat. Kupercepat kayuhan sepedaku. Tapi
jalanan benar-benar sepi. Aku jadi menyesal tadi bertengkar dengan Fani. Coba
tadi gak marahan, pasti sekarang aku ada temen ngobrol gak sepi kayak gini. Aku
terus mengayuh sepeda sambil menengok kanan kiri. Benar-benar aneh! Serasa tak
ada nyawa sama sekali. Dan aku bingung kemana persimpangan yang awal?
Seharusnya tidak jauh dari sini. Aku mencoba terus mengayuh. Tapi pikiran dan
perasaanku sudah tak karuan. Jujur saja, aku takut sendirian di tempat sepi
seperti ini.
“Fani… Fani...”
aku mulai memanggil-manggil, berharap anak itu mendengar dan aku akan
mengajaknya untuk segera pulang. Namun tak ada sahutan. Aku mencoba berteriak
lebih keras, ”Fani …!!!!” tapi tetap saja tidak ada yang menyahut. Aku
berteriak lagi, lebih keras, lebih keras, dan lebih keras. Hasilnya nihil!
Tenggorokanku sakit. Merasa putus harapan, aku terduduk lemas. Kusenderkan
tubuhku pada pohon rindang yang ada disitu. Sepeda kuparkirkan di samping
pohon. Kurilekskan tubuhku mencoba nyaman. Tapi tetap saja pikiran
bercabang-cabang dan gelisah. Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan-lahan, cara untuk merasakan ketenangan, seperti yang telah diajarkan
oleh guru penjas kemarin saat berolahraga. Angin sepoi-sepoi membuat mata
terasa berat. Kupikir aku akan tertidur. Aku berharap saat membuka mata nanti, ada tim
penyelamat yang sudah membopongku menuju rumah. Semoga. Dan aku pun terlelap.
Aku terbangun.
Di kamar. Bukan di jalan. Bukan di sebelah pohon. Bukan. Aku di kamar. “HAH?” aku
segera tersadar. “Dimana ini? Mana sepedaku? Apakah aku di rumah? Dimana Fani?”
beribu-ribu pertanyaan menghampiri benakku. Tapi ini bukan kamarku… Ini sebuah
kamar putih, kasur putih, sarung bantal guling putih, selimut putih.
Dinding-dindingnya kosong layaknya rumah sakit. Aku merasakan kepalaku
berdenyut-denyut, sakit sekali. Mencoba mengingat-ingat apa saja yang aku
lakukan hingga bisa sampai ke tempat ini. Aneh, bukankah aku tertidur di jalan?
Mengapa bisa sampai di sebuah kamar serba putih begini? Jika diselamatkan,
mengapa sekarang aku tidak di kamarku? Atau... atau... ada yang menculikku? Ya
itu kemungkinan yang paling mungkin. Tapi untuk apa menculikku? Tak ada
gunanya! Jika ingin mendapat uang banyak dari hasil tebusan, lebih baik
menculik anak gubernur sekalian, pasti dia mau ngasih tebusan berapapun juga,
tapi tergantung sih gubernur mana, kalo gubernurnya o’on sih gak papa. Hey!
Ngapain aku ngurusin anak gubernur? mau diculik kek, emang aku peduli? Sekarang
aku yang diculik! Hmm... gimana kabarnya Fani ya? apa dia udah sampai di rumah
dengan selamat? aku harap iya. Aku harus segera memikirkan nasibku sekarang!
Aku melompat
dari kasur dan meneliti pakaian. Setelah yakin tidak ada kekurangan sesuatu
apapun, aku segera menghampiri pintu yang juga putih. Ketika hendak memutar
gagang pintu, ternyata pintunya sudah terbuka lebih dulu. Deg! Refleks aku
mundur beberapa langkah. Siapa yang akan datang? Penculiknya kah? Mukanya
sangarkah? Atau bertampang keren seperti Kaito Kid dalam komik Conan? Atau
mungkin blo’on seperti Nobita temannya Doraemon? Ternyata bukan, semua
bayanganku tentang wajahnya salah. Seorang wanita cantik dan berwajah lembut
tersenyum menyejukkan. Aku langsung teringat cerita Fani kemarin. Ah namun tak
ada bekas-bekas ‘setan’nya tuh. “Siapa kamu?” tanyaku mencoba memberanikan
diri. Kulihat wanita itu menggerak-gerakkan bibirnya seperti mengucap sesuatu,
tapi anehnya tak terdengar apa-apa! “hah? ga kedengaran” aku mulai waspada, jebakan apa ini? Tapi kulihat dia terus
berbicara tanpa suara. Pertanyaan dalam benakku semakin bertambah. Apakah
pendengaranku yang sudah rusak? tapi aku masih bisa berbicara dan mendengar
suaraku sendiri, ya hanya suaraku, karena tak ada suara lain lagi. Wanita itu
lalu berjalan dan dari gayanya aku bisa membaca, dia memintaku untuk
mengikutinya. Dengan masih menyunggingkan senyum ramahnya, dia berjalan
mendahuluiku layaknya seorang penunjuk jalan.
Kami berjalan di
sebuah lorong yang sangat panjang. Aku merasa mataku sakit karena tak melihat
warna apapun selain putih dan selain warna yang ada pada pakaianku. Lorong
panjang ini ternyata penuh dengan orang yang lalu lalang. Sesekali mereka
tersenyum ke arah kami. Muka mereka tidak ada bedanya denganku. Aku yakin
mereka manusia biasa, bukan hantu. Namun semuanya memakai pakaian putih! Dan
aku melihat sesuatu yang sangat janggal. Mereka semua saling berbicara,
bercanda, dan bahkan dari mimik mukanya aku bisa melihat ada yang
berteriak-teriak. Tapi semua itu tanpa suara! Tempat ini sangat sepi. Lebih
sepi dari kuburan manapun pada malam hari. Bahkan saking sepinya aku dapat
mendengar detak jantungku yang berdegup sangat cepat.
Tak lama, kami
sampai di ujung lorong ini. Sebuah pintu besar yang tingginya nyaris 3 meter.
Kulihat wanita tadi komat-kamit sambil memejamkan matanya. Pintu besar itu pun
terbuka tanpa suara sedikit pun. Aku terperangah melihat isi ruangan. Sangat
besar dan dipenuhi perabotan mewah yang serba putih. Seseorang duduk di sebuah
sofa membelakangi kami. Wanita tadi lalu mendekati orang itu dan membisikkan sesuatu
di telinganya. Sofa besar itu berputar dan tampaklah seorang kakek tua serba
putih yang duduk di atasnya. Menatap mukanya, aku merasakan kesejukan yang luar
biasa. “Siapa kau nak?”……. ting! bip-bip! Sinyal suara! Telingaku mendengar
sebuah suara! Suara pertama yang kudengar! Horee... aku bersorak dalam hati,
ternyata aku tidak tuli. “Kakek... kakek berbicara? aku bisa mendengar suara
kakek?” tanpa sadar aku bertanya dengan penuh semangat, serasa hidup kembali
setelah sekian lama berada dalam kesunyian. Kakek itu tersenyum, maniiis
sekali. “Saya tau kau bukan berasal dari dunia sini. Pakaianmu jelas berbeda.”
“Lalu kek, emang ini dimana? Dunia lain? Dunia tanpa warna kah? Atau dunia
tanpa suara?” aku bertanya penasaran. Lagi-lagi kakek itu tersenyum. “Jawabanmu
tidak jauh meleset.” Kakek itu berdiri dan berjalan ke sebuah pintu lain, yang
bukan merupakan pintu besar yang sebelumnya aku lewati. Pintu ini lebih kecil
dan tanpa warna alias transparan. Aku mengekor dari belakang. Pintu itu
ternyata merupakan jalan keluar ke sebuah taman, ‘Taman Putih’. Bunga,
rerumputan, burung, bangku, pohon, se...galanya putih! Tidak berbeda dengan apa
yang aku lihat sebelumnya.
“Dahulu...tempat
ini merupakan tempat yang sa…ngat nyaman. Sungai biru yang mengalir jernih,
pepohonan hijau yang menyejukkan mata, burung-burung kecil yang berkicau ramai,
hewan-hewan yang elok rupanya, orang-orang yang mengenakan baju berwarna-warni,
udara sejuk, siklus angin dan hujan teratur, ekosistem yang berjalan sungguh
sangat sempurna. Kau tau? Dulu tempat ini merupakan ‘The Heaven of World’,
Surga Dunia.” Kakek tua itu berhenti sejenak, “tapi itu semua tak bertahan selamanya. Terjadi
perubahan yang sungguh luar biasa. Kebutuhan setiap orang ternyata tidak
terpuaskan oleh segala sumber daya yang ada. Akibatnya keserakahan dan
keegoisan merajalela. Mereka semua tak mempedulikan kepentingan bersama, yang penting
bagi mereka hanyalah diri sendiri. Kebersamaan yang dulu sangat dijunjung
tinggi lenyap bersama tertimbunnya ‘The Heaven of World’ itu. Polusi udara,
air, tanah, dan suara sudah menjadi cemilan kami sehari hari. Perlu kau ketahui,
saat itu tempat ini menggunakan ukuran suara atau bunyi mencapai 80 dB
(decibel), sungguh itu melanggar angka yang wajar yaitu 70 dB. Surga itu lalu hilang
perlahan-lahan dan akhirnya tenggelam ditelan bumi. Tinggallah dunia ini
gersang, gersang dari tanaman, gersang dari kelembutan hati, gersang dari rasa
empati, dan gersang dari kasih sayang. Kamu tau lanjutan sejarah kelam ini?”
kakek itu tiba-tiba bertanya. Tentu saja aku menggeleng. “Akibat dari kelalaian
dan kebodohan kami, dunia ini dikutuk menjadi dunia yang tanpa warna, hanya ada
warna putih, dan dunia yang tak ada suara. Tentu saja ini merupakan hukuman
yang sangat berat bagi kami.” Kakek itu menyudahi ceritanya dan matanya
menerawang jauh. Aku dapat melihat kesedihan dan kepedihan yang tersembunyi di
balik mata lembutnya.
Dia lalu tersenyum dan berkata, “pulanglah ke
duniamu. Jaga baik-baik dan lindungi dia. Jangan biarkan tangan-tangan jahat
mengotori keindahannya. Jangan sampai dia menangis akibat kenakalan kalian.
Kelak kalian sendiri yang akan merasakannya.” Aku membalas senyumnya dan
kurekam kata-katanya dalam memoriku yang paling dalam. “Pejamkan mata! Dan
rilekskan tubuh! hilangkan segala kegelisahan!”pinta kakek itu tiba-tiba. Aku
menurut saja. Pikiran kukosongkan. Sayup-sayup masih terdengar kakek itu berkata,
”doakan dunia kami agar dapat kembali menjadi dunia yang nyaman seperti dulu.”
Bug! sebuah apel
jatuh ke pangkuanku. Hey! dari mana ini? Oh aku berada di bawah pohon besar dan
ternyata itu adalah pohon apel. Sepedaku masih terparkir dengan setia di sebelah
pohon apel ini. Hoamm… berapa jam ya aku berada di dunia putih itu. Kulirik jam
tanganku, pukul 5 lewat 10 menit. “eng? Enggak mungkin aku cuma 5 menit disana.
Jelas itu cukup lama. Apa aku bermimpi? Tapi itu terasa nyata. Masih terbayang
jelas dalam otakku kamar yang serba putih, wanita cantik yang tersenyum ramah,
lorong panjang, kakek tua baik hati, taman putih, pokoknya semuanya!” sudahlah
tidak penting itu mimpi atau bukan yang penting sekarang aku harus pulang dan
tidur dengan nyaman di kasur yang empuk. Tapi kemana jalan pulangnya?
“Zakiyah…!” “Hey
Fan, kemana aja?” “seharusnya aku yang bertanya begitu. Aku pangil-panggil lo
dari tadi. Udah yu pulang! Ga ada apa-apa ternyata disini. Tempatnya memang
sepi tapi tak berarti menyeramkan. Aku bertemu beberapa orang kok tadi, bahkan
aku menemukan beberapa rumah yang sudah ditempati. Ah ternyata cerita itu
akal-akalan orang jahat aja yang gak mau rumah-rumah disini laku.” Fani
mengungkapkan kekecewaannya, namun terselip juga kelegaan disana. Hhm... haruskah
aku bercerita padanya tentang kejadian tadi? Yang aku sendiri tidak yakin itu
merupakan mimpi atau bukan.
Komentar
Posting Komentar