Satu Hari yang Terlewat
Serumit mencari jarum dari balik jerami, serumit itu pula seorang bapak menyatakan cinta. Ia mungkin bukan bapak ideal yang selalu ada untuk berlibur, bukan pula yang selalu meluluskan keinginan putrinya. Tapi ia lelaki yang kami sambut dengan bungkusan makanan di tangannya saat kecil dulu. Ia mungkin memang tidak selalu bisa membelikan apa yang diinginkan anaknya. Tapi ia mengajarkan arti menerima dan memberi, itu lebih berarti dibanding apapun yang kami ingini Ia mengajarkan untuk selalu berkata jujur tapi ia berbohong mengatakan sudah kenyang padahal kami tahu ia belum makan hanya supaya kami tidak kelaparan. Ia mungkin memang tidak hafal suaraku di telepon. Tidak tahu mana saja barang barangku dan kapan hari ulang tahunku. Tapi ia tahu yang terbaik untuk masa depanku. Ia yg selalu mengutamakan perut anak anaknya. Bahkan sampai kini pertanyaan yg selalu ia lontarkan adalah sudah makan atau belum. Yang membopong kecil kami ke kamar mandi untuk mencuci kaki. Yang ...