dalam senja


Jangan kau benci. Dingin memang wataknya. Menyerang dalam diam tapi keroyokan. Jahat. Tak kenal ampun ia menyakitimu.
Kini kami hanya sejengkal. Saling bergulat sepi dan dingin. Suaranya merobek gendang telinga bersamaan dengan deru motor di sampingnya. Ia tak bergeming kau tahu. Hanya menatap sedingin es tadi pagi. Pun ketika mereka sakit. Dia tak peduli itu. Dengan angkuhnya datang bersekongkol dan mencungkil rasa sakitmu sedikit saja. Meributkan sepetak-petak jalan dan membuat ricuh puluhan bebek liar. Ributnya yang bukan main. Dalam pandanganku ia terasa mengolok-olok ketidakberdayaanku yang hanya bisa duduk diam. Menunggu aksinya selesai dan aku akan aman.
Dalam hujan. Deras

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru