Gadis Kecil
Di bawah payung gadis kecil bermain. Tatanan
mainannya rapi mulai dari piring kecil, sendok kecil, hingga tempat bedak bekas
ibunya. Tangannya yang mungil bergerak lincah kesana kemari bak seorang ibu
yang memasak untuk anaknya. Celotehnya riang meski tak tersusun jelas. Gadis
kecil mengangguk, menggeleng, tersenyum, tertawa, sendiri. kadang ia keluar
dari ‘markas’ payungnya sambil menjinjing kaleng bekas. Mulai beraksi seolah ia
pengamen kecil. Tak lama kemudian ia kembali ke haribaannya. Melirik kanan kiri
seperti menunggu seseorang. Gadis kecil mengulum senyum. Tangannya masih terus
bergerak memainkan apa saja di depannya. Dengan alas karpet di bawah payung
gadis kecil meringkuk. Bak kedinginan ia menggulung seperti kepompong. Dalam
sempitnya ia tertawa-tawa. Bayangannya terlalu tinggi untuk dijangkau. Entah apa kini di pikirannya. Ia lalu keluar
dan menggendong boneka anjing kesayangannya. Dengan penuh sayang ia elus-elus
dan diajaknya mengobrol. Kini di pundaknya telah menggantung ransel yang asal
ia temukan. Ransel itu telah penuh ia isi dengan botol bayi, bedak bayi, tempat
sampo kosong, tempat pelembab kosong, dan dompet kosong. Ia berlari-lari kecil
di dalam rumah. Mengitari meja makan, melompati bantal-bantal, menggeser-geser
kulkas, mengacak-ngacak tempat sandal, mengobrak-abrik rak buku, dan meributkan
seisi rumah, tapi ia tak peduli. Dengan boneka kesayangan dan ransel di
pundaknya ia bertualang dan menemukan hal baru. Hingga lelah ia berhenti dan
mulai membuka dompet. Dengan tampang sedih ia berbicara pada bonekanya seolah
mereka tak memiliki uang dan kini tak bisa makan apa-apa. Menyeret langkah
mencoba mencari sesuap nasi. Membawa kembali kalengan uang dan berharap kasihan
orang-orang dari suara cemprengnya. Matahari telah meninggi. Ia mulai menghitung
uang palsu dari kalengnya. Gadis kecil tersenyum lagi dan seolah membeli
beberapa makanan dan menyuapkan pada ‘anjing’nya.
Di bawah payung itu gadis kecil masih
bermain. Masih meringkuk dengan nyaman di atas karpet yang hanya digelar di atas 12 petak ubin. Entah ke yang sekian kali ia meracik makanan dengan
botol-botol bekas yang dengan rajin ibu menyucinya. Gadis kecil tidak perlu
mainan mahal yang dijual di pasar atau mall-mall. Ia tidak perlu boneka Barbie
mahal seperti yang dimiliki saudaranya. Ia tidak perlu boneka-boneka mahal dari
luar negeri. Dengan botol-botol bekas itu pun ia tertawa. Dengan boneka
anjingnya yang sudah lusuh itu pun ia masih tersenyum. Kala bosan ia menutup
payungnya dan hanya dengan setengah lembar karpet. Karpet berwarna merah itu ia
jadikan tempat tinggal dan daerah di luarnya adalah jalan raya, rumah tetangga,
pasar, dan sekolahan. Setiap hari setiap judul ia mainkan. Satu tahun entah
berapa episode telah berputar. Ia menikmatinya. Bukan sinetron kejar tayang
bukan pula drama korea yang menguras air mata. Ini imajinasi gadis kecil
berusia tiga tahun. Tangan mungilnya lincah menarikan pena di atas dinding.
Gambar superman, perempuan bermahkota, ibu berkerudung, puluhan semut ia
torehkan. Dinding lain tak ketinggalan jadi korban.
Gadis kecil kini punya teman. Sama-sama
gadis kecil juga. Mereka berlari-lari seolah terbang. Kini di kediaman yang
lebih besar. Di rumah di atas tanah 300 m2. Di ruang tamu dijajarkan
bantal-bantal duduk. Dengan polos gadis-gadis kecil meloncat-loncat di atasnya,
membayangkan diri seorang peri dari kahyangan. Membawa tongkat ajaib dan berubah
dengan berputar-putar seperti di film kartun setiap hari minggu. Bantal-bantal
ditinggalkan begitu saja ketika bosan. Tinggalah perempuan tua mengomel-ngomel
dan melarang bermain. Gadis-gadis kecil ke kamar tidur dan menata boneka.
Berebut boneka terbaik dan tidak ada yang mau mengalah. Berantem, nangis, lalu
berbaikan dan bermain lagi. Betapa tak ada bosannya. Sampai larut malam mereka
masih berkutat dengan bonekanya. Sampai ibu dari satu gadis menyuruh tidur dan
mereka berhenti.
Komentar
Posting Komentar