tokoh ke berapakah kamu??
Hai bulan, cantik sekali dirimu malam ini. sayang kau terlihat kesepian
tanpa para bintang menemani. Mari aku temani. Lebih baik bersama-sama walau
sendiri :’)
Ah ya ada satu hal yang ingin kuceritakan dan
sering menari-nari dalam benakku #halah.
Nonton. Yap hobi yang tumbuh subur semenjak kuliah, entahlah. Berbagai film
mulai aku tonton, drama korea (eh namanya bukan film dong), yah apapun lah itu
yang pasti gambar bergerak bukan cerita yang berupa tulisan-tulisan yang sering
aku lihat dalam bentuk lembaran-lembara *baca:buku (ribet banget deh guee -_-)
Romance. Yah aku lumayan suka juga dengan genre itu, tapi yang mellow...hmm
ngga begitu. Dalam kehidupan seperti itu, kisah cinta, romance, selalu ada yang
sang pahlawan yang menjadi tokoh utama. Lalu ada pasangannya yang memang
ditakdirkan untuk mereka selalu bersama dari awal cerita sampai akhir, disebut
tokoh kedua. Hhmm.. yah seperti putri dan pangeran. Lalu cerita itu tidak akan
menarik jika tak ada ‘sang tokoh ketiga’, yang penjahat, penyihir, pengganggu,
rival, saingan, apapun lah itu yang merusak hubungan kedua tokoh sebelumnya.
Terkadang sekeras apapun usaha tokoh ketiga ini, tetap saja nasib akhirnya
menyedihkan. Dia tidak pernah ditakdirkan mempunyai ending yang bagus (eit ngga
juga sih, ngga selalu begitu). Yah setidaknya, dia jarang bisa mendapatkan apa
yang didapatnya, walaupun di beberapa cerita ada juga yang memiliki ending
berbeda.
Entah kenapa, aku sering kesel sama akhir yang kaya gitu tapi apalah daya
aku bukan siapa-siapa (da apa atuh aku mah... aaaaah stop! Bosen banget denger
kalimat itu :/
Kadang aku suka ngedukung tokoh ketiga itu. Bukan berarti tidak setuju denga endingnya, bukan berarti
aku menyalahkan sutradara atau scriptwriternya, bukan. Tapi aku hanya sering
memikirkan tokoh ketiga, bagaimana nasibnya nanti, dan sering merasa kasihan
dengan ending yang sudah digarishidupkan padanya #et dah ngomong apa sih, film
doang ngga nyata -_-
Tapi begitulah sebuah cerita yang bagus, ketika sudah bisa mengambil hati
para penikmatnya, dan para konsumennya. Bagaimana mengolah cerita yang bagus
supaya enak untuk dikonsumsi. Ehem kok aku jadi ngomong kepanjangan. Ah
sudahlah.
Kini aku jadi berpikir, kenapa aku sering ngedukung tokoh
ketiga?jangan-jangan pikiranku ini terpengaruh dengan kehidupan asliku? Karena
alam bawah sadar?
Berarti..ini membuktikan.. dan bisa diambil kesimpulannya..kalau aku
mungkin sering bertindak sebagai tokoh ketiga. Hiks :’(
Hey itu bukan satu hal yang harus ditangisi. Mungkin hanya lelucon yang
ironi. Aku sering dulu merasa sebagai tokoh utama, atau tokoh kedua dengan
memiliki ending yang bagus. Kesal dengan tokoh ketiga, dan aku sangat percaya
diri akan hal itu. Tapi ternyata kehidupan sesungguhnya tidak sesederhana film,
cerita roman, picisan. Aku yang merasa sebagai tokoh utama kini... rasanya
kurang relevan dengan alur ceritanya. Mungkinkah aku tokoh ketiganya? Coba
kupikir-pikir. Banyak hal yang tidak aku ketahui. Banyak yang terjadi dengan
alur cerita yang rumit ini. banyak konflik dan hal-hal lain yang kompleks yang
tidak aku ketahui, dan tidak ada aku di dalamnya. Bukankah aku tokoh utama?
Sekali lagi aku masih berharap hal itu benar. Tapi semakin hal itu dipikirkan, semakin
aku yakin kalau akulah tokoh ketiga cerita ini. yang justru merusak kedua tokoh
sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar