Sentilan di Sore Hari



Sore itu aku pulang dengan tergesa. Langit masih setia mencurahkan air dari tadi siang. Perjalanan saat itu tinggal beberapa menit lagi, tersisa satu angkot, angkot kuning atau tepatnya krem, angkot antapani.

Di dalam sudah ada beberapa orang duduk di belakang supir, dan beberapa orang lagi di sebrangnya. Aku memilih duduk di kursi yang menghadap ke pintu, untuk mendapatkan sedikit sepoian angin.

Beberapa menit kemudian, menunggu angkot yang tidak juga maju aku masih berkutat dengan ponselku, membalas sms yang masuk. Tak lama, masuk seorang anak kecil perempuan. Awalnya aku biasa saja, dia tak ada bedanya dengan penumpang lain. Sejurus kemudian, mataku menangkap sesuatu yang aneh di tangan mungilnya. Ya Allah.. sebatang rokok. Sepanjang perjalanan ia terus saja menghisap rokoknya walaupun aku tahu ia sengaja menghadap jendela agar asap rokok tidak masuk ke dalam dan membuat penumpang lain terganggu. Anak itu mungkin seusia adikku atau bahkan lebih muda lagi. Perokok, ya tentu saja tidak akan sulit menemukannya di angkot, dan melakukannya tanpa mempedulikan sekitar yang merasa terganggu dengan asap rokoknya, bahkan supirnya sekalipun. Tapi jujur saja, pemandangan hari itu merupakan yang pertama kali untukku, yang melihat langsung. Benakku langsung terbayang pada adikku yang kini duduk di kelas 2 smp. Bagaimana jadinya kalau dia seperti itu? Aku langsung bergidik sendiri.

Angkot yang kutumpangi berhenti di terminal, yang memang disana pulalah aku biasa berhenti. Gadis kecil itu belum juga turun. Setelah membayar ongkos, kutangkap sedikit percakapan antara si gadis dan tukang angkot. “Neng, bade kamana?” “Ka Ciroyom mang,”

Allahu Akbar, kau tahu? Saat itu kami berada di terminal antapani, yang berarti ribuan meter jauhnya dari tujuan gadis itu. Yah yang namanya juga angkot ‘Antapani-Ciroyom’. Entahlah, aku tak tahu apa yang ada di benak gadis itu. Mungkin dia kesasar tidak tahu angkot yang harusnya dinaiki, mungkin ia tak memiliki tujuan, aku hanya bisa berhusnudzon saat itu.

Sambil berjalan pulang menyusuri terminal menuju rumah, bayanganku belum terlepas dari kejadian tadi. Rasanya kasihan melihat anak seusia itu sudah melakukan perbuatan yang tidak ‘baik’. Aku tahu itu bukan kesalahannya sepenuhnya. Banyak faktor yang menjadikannya seperti itu dan faktor utama adalah keluarga dan lingkungannya. 

Kejadian sore itu membuat hatiku sedikit tersentil dan menyadari sungguh beruntungnya aku saat ini. Alhamdulillah.. aku dibesarkan di dalam keluarga yang masih bertanggung jawab, dan dalam lingkungan yang baik juga. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru