Pesan dari Negeri Seberang
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu, karib kerabat, tetangga
yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri. Shodaqallahul ‘adziim.. Maha Benar Allah Yang Maha
Agung.”
Kututup AlQuran terjemahan kecilku dan segera kulipat mukena. Setelah
sholat dan berdoa yang panjang, mengadu pada Yang Maha Mendengar, rasanya
beban-beban itu terangkat setengahnya, sehingga akupun bisa bernafas kembali
dan dapat berfikir jernih. Benar kata mamah, masalah seberat apapun aduin
semuanya ke Allah SWT. Asalkan kitanya mau berusaha, pasti ada jalan.
Hidup di daerah minoritas muslim memang tidak mudah. Hambatan dan
godaannya jelas lebih banyak daripada di kampung halaman. Kalau di kampung
dulu, jam 4 shubuh pasti terdengar adzan dimana-mana, bersahut-sahutan, yang
membuatku lebih sering menarik selimut kembali ketimbang bangun memenuhi
panggilan Illahi. Tapi kini, hal itu justru aku sesali ketika berada jauh di
negeri seberang. Waktu-waktu sholat, jangan harap akan ada adzan yang
mengingatkan. Hanya bergantung pada adzan alarm di handphone. Yang paling
repot, jika akan sholat di tempat yang pertama kali kita singgahi. Bingung
untuk menentukan arah kiblatnya kemana. Praktis hanya mengandalkan system
kompas di android. Belum lagi dengan masalah makanan yang membuat dilema. Harus
bener-bener teliti sama komposisi dan kode-kode yang membingungkan. Tapi semua
hambatan itu tidak berarti mengartikan seolah-olah hidup di negara orang itu
menakutkan dan membuat jadi parno. Tinggal di lingkungan minoritas justru
menjadikan tantangannya lebih besar dan tentunya pahala juga Insyaallah lebih
besar pula.
Walaupun orang-orangnya mayoritas beragama non muslim, tapi kadang
sering kutemui perbuatan mereka yang justru mengikuti Sunnah Nabi, yang
tentunya mereka tidak mengenal beliau. Seperti menghormati tamu, berbicara lembut
dan sopan, dan hal lain yang bahkan di Negara sendiri pun, yang mayoritas
beragama Islam, justru jarang menemukannya. Ada sedikit pengalaman menarik
tentang kehidupan mereka, bahkan orangtua asuhku sendiri disana. Mereka
nonmuslim, tapi ada doa yang terus menerus mereka panjatkan setiap harinya. “Ya
Tuhan, berilah anak-cucu kami masalah yang besar.” Karena bingung, beberapa
hari tinggal di rumah mereka, akhirnya kuberanikan untuk bertanya seputar doa
tersebut. Jawaban mereka sungguh menyadarkanku. “yakin Tuhan pasti membantu,
tidak ada yang tidak terselesaikan. Jika
kita bisa menyelesaikan masalah-masalah besar, pasti masalah kecil hanyalah
remeh dan mudah sekali untuk diselesaikan.”
Sejak saat itu aku bertekad untuk tidak lagi mengeluh
masalah-masalah sepele seperti sulit mencari masjid, bosen sama makanan yang
itu-itu terus- justru jadi termotivasi untuk membuat inovasi makanan baru dari
bahan seadanya-ataupun saat rindu dengan kampung halaman. Kadang, tinggal di
Negara orang itu bukan musibah, tapi anugerah.
cerpen ini yang pernah dimuat di buletin Al-Qolam, salah satu unit kegiatan mahasiswa di UPi. nanti deh, kalau ada waktu dan pas waktunya, aku mau bercerita tentang unit yang mengasyikkan ini :) insyaallah
Komentar
Posting Komentar