Penyakit Raja Raju
Pada zaman dahulu kala, jauh dari
sini,ada sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Hakunamatata”. Terletak di
sebelah Sungai Angsa Besar, seberang Pulau Hijau. Disana, tegak menjulang
sebuah lembah yang jika kita berada di atasnya, kita dapat melihat pemandangan
yang sangat indah. Sungai-sungai yang mengalir di antara lembah, bunga-bunga
yang mekar setiap tahun, melengkapi semua keindahan itu. Di samping memiliki
keindahan yang melenakan mata, Kerajaan Hakunamatata memiliki masyarakat yang
hidup damai dan tenang. Harmonis, solider, dan empati adalah moto mereka. Mereka
dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Raju. Raja Raju adalah raja yang
baik hati. Ia memimpin dengan adil dan jujur. Dia selalu memperhatikan
rakyatnya dan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan. Setiap hari,
kastilnya dipenuhi oleh rakyat. Mereka datang bahkan dari tempat yang jauh
untuk meminta pertolongan, menanyakan sesuatu, atau hanya ingin bertemu dengan
Raja Raju. Terlihatlah, kalau semua rakyat Hakunamatata mencintai rajanya.
Namun,
itu semua adalah masa lalu dan berangsur-angsur terlupaka. Kerajaan itu kini
tak seperti dulu lagi. Binatang-binatang ternak, khususnya sapi, kambing, dan
kerbau satu per satu mati, karena kurangnya pangan. Sungai-sungai tidak
mengalir lagi, membuat semua rakyat Hakunamatata menderita. Waktu berganti. Sebelumnya,
rakyat Hakunamatata hidup dengan makmur dan kaya akan hasil pertanian. Tapi sekarang
semua itu hilang. Mengapa semua itu terjadi? Jawabannya adalah karena raja
mereka jatuh sakit. Tidak ada lagi yang akan mendengar keluhan mereka dan tidak
ada lagi yang menolong mereka dari kesulitan. Raja Raju sudah lama sakit dan
hanya berbaring di atas kasurnya. Tubuhnya penuh dengan bentol-bentol kecil,
seperti gigitan nyamuk, hanya lebih kecil. Bentol-bentol itu sangat gatal dan
jika digaruk, akan berdarah. Hal itu menyebabkan tubuh Raja dipenuhi oleh darah
dan nanah, sangat mengerikan. Semua orang berkeyakinan, penyakit Raja adalah
kutukan dari seoran penyihir jahat yang membenci Raja dan tidak menyukai
ketentraman di Hakunamatata. Semua dokter, tabib, bahkan dukun dan orang hebat
sudah dicoba untuk menyembuhkan penyakit Raja tapi semuanya nihil. Raja Raju
belum tertolong.
Suatu
hari ketika harapan mereka nyaris habis, seorang penasihat raja memberikan satu
usulan. “Paduka Raja, saya memiliki satu usulan, mungkih bisa menjadi
pertimbangan.” Penasihat menghadap.
“Oke, silakan,” jawab Raja Rajun sambil menggaruk badannya.
“Bagaimana jika kita membuat
sayembara. Barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit paduka Raja, maka ia
akan mendapat hadiah apapun yang dia inginkan. Sayembara ini terbuka untuk
semua orang.”
Raja Raju terdiamdan berpikir. Tak
lama, “Baiklah, aku setuju. Cepat umumkan pada rakyat! Siapa yang bisa
menyembuhkanku, aku beri berapapun yang dia mau!”
Singkat
cerita, sayembara dibuka. Orang-orang datang bahkan dari tempat yang jauh untuk
mencoba sayembara tersebut. Semua peserta dari berbagai tempat, berbagai
profesi, dan berbagai usia. Mulai dari petani, guru, pedagang, nelayan,
peternak, koki sampai penjahit. Mulai dari anak muda, dewasa, sampai orang tua.
Tersebutlah seorang anak muda sebatang kara. Ia bekerja untuk dirinya sendiri
dan untuk menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan. Di samping itu, dia
mempunyai satu potensi yang bermanfaat bagi banyak orang. Ia ahli menyembuhkan
penyakit. Kerajinannya membaca buku dan belajar otodidak, membuat
pengetahuannya bertambah. Pemuda ini datang ke kastil untuk menolong rajanya.
“Siapa namamu?” tanya Raja Raju.
“Saya Oldo, Paduka.” Jawab anak
muda itu.
“Hhmm.. saya lihat dari semua
peserta, kamu adalah yang termuda dan terlihat tidak bisa apa-apa.” Kata Raja
Raju sedikit meragukan. “Apa kamu yakin bisa menyembuhkan penyakitku?”
“Saya coba, Paduka.” Jawab Oldo
tenang.
Tak
berapa lama, Oldo mulai memeriksa Raja Raju. “Paduka Raja, saya tahu apa
penyakit paduka. Penyakit ini sudah ada dari zaman dahuulu kala. Ia sering
diderita oleh orang-orang yang kurang menjaga kebersihannya. Namanya ‘skabies’.
Saya tahu penyakit ini dari buku yang pernah saya baca. Mungkin Paduka Raja
kurang memperhatikan diri sendiri, karena sibuk memikirkan rakyatnya. Tapi tak
perlu khawatir paduka, ini bukan kutukan. Paduka hanya butuh beristirahat untuk
sementara waktu. sambil beristirahat, sebaiknya semua pakaian paduka direndam
dalam air panas untuk menghilangkan bakteri jikalau ada yang menempel. Setelah itu,
Paduka Raja harus mandi dua kali sehari dan jangan pernah memakai pakaian
lembap. Selalu jaga tubuh Paduka tetap kering.” Oldo menjelaskan.
Raja
Raju mengikuti semua saran Oldo. Ia beristirahat untuk sementara waktu, dan
semua pakaiannya dipanaskan. Di akhir cerita, kesehatan Raja Raju
berangsur-angsur pulih dan ia kembali sehat. Tidak ada lagi bentol-bentol di
tubuhnya. Dia memulai kembali memimpin rakyatnya. Sedangkan Oldo, Raja
menawarinya untuk menjadi tabib kerajaan yang ditolaknya dengan halus. Ia ingin
kembali ke desanya, karena ia merasa lebih dibutuhkan oleh banyak orang disana.
Raja Raju memakluminya dan memberinya emas dan alat-alat kedokteran.
The end
Komentar
Posting Komentar