kado terindah
Senin, 27 Mei 2013. Hari itu
menjadi hari menegangkan bagi kami, kelas 3 SMA. Hari pengumuman kelulusan
SNMPTN. Tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 60 % penerimaan
perguruan tinggi negeri ditentukan oleh jalur ini, atau yang dulu namanya jalur
undangan, dinilai dari nilai raport dan ujian nasional. Yang kurang beruntung
bisa mengikuti SBMPTN, test tulis yang serempak diadakan di beberapa kota di
Indonesia.
Handphoneku bergetar beberapa kali, tanda sms
masuk. Kebanyakan menanyakan siapa yang lulus SNMPTN, dan ucapan harap-harap
cemas. Segera kunyalakan laptop merah kesayanganku. Beberapa menit kemudian,
laman web SNMPTN sudah di depan mata.
Perlahan namun pasti kuketik nomor-nomor
peserta yang tertera di kartu SNMPTN. Dan..klik! berdebar jantungku, berharap,
berdoa. Kutahan napas ketika membaca tulisan demi tulisan, dan beberapa detik
kemudian kuhembuskan napas panjang. Aku tidak lulus. Hufft.. sedih itu ada,
tapi tak berkepanjangan, karena aku yakin pasti ada hikmah dari semua ini. Seandainya
aku lulus SNMPTN, pasti aku lulus di Keperawatan, dan sebenarnya setengah hati
aku memilih itu, karena permintaan Mbak Ika. Tapi karena aku ini kelas IPA dan
katanya tidak boleh lintas jurusan, terpaksa aku memilih jurusan yang tidak aku
minati. Aku suka menulis, dan aku ingin masuk bidang kepenulisan. Jurnalistik,
yap! Seperti keinginan ayahku juga. Ayah bilang, jika ingin menjadi seseorang
yang terus dikenang, jadilah penulis. Yeah..FIKOM!!
Alhamdulillah
beberapa teman kita di kelas IPA-3 lulus SNMPTN. Eko, Informatika UNPAD, Sarah
FK UNPAD..
“ah beruntung sekali mereka.”
Kulanjutkan lagi membaca status Putri.
..Sena Pemerintahan UNPAD, Fauzan
Pemerintahan UNPAD, Rizki Fikom UNPAD..
Waduh UNPAD ngeborong.. eh?
Kurasakan ada yang ganjil. Pemerintahan? Fikom?? Bukankah itu jurusan IPS?
Langsung kuraih hpku dan kucari kontak ‘Putri WR’
“Put,
beneran lu bikin status?”
“yaiyalah
bener. Emang kenapa?”
“
Kok bisa sih si Sena, Fauzan, sama Rizki lolos di IPS? Bukannya ga boleh lintas
jurusan kan.”
“
oh itu, gatau Mel aku juga bingung. Mungkin bukannya ga boleh lintas jurusan
kali, cuman peluangnya aja yang kecil.”
“Ah
ngeselin nih, tau ga Put, aku sampai ditelpon Desi.”
Kuceritakanlah
pengalamanku beberapa minggu yang lalu saat ditelpon oleh salah satu teman di
tempat bimbel. Katanya, untuk SNMPTN tidak boleh lintas jurusan. Yang kelas IPA
harus memilih jurusan IPA dan begitu pula dengan kelas-kelas yang lain. Mendengar
itu, langsung saja aku ganti pilihanku yang awalnya Komunikasi menjadi
Keperawatan. Yah, minimal aku masuk negeri walaupun aku tidak suka bidangnya,
begitu pikirku saat itu.
“Gitu Put, sebel banget kan?
Kalau tau gini mah mending waktu itu aku pilih Fikom deh kaya Rizki. Huu..”
“Eh udah ga usah nangis, aku
juga ga lulus biasa aja. Sudahlah..
berarti kamu emang ditakdirin untuk berjuang dulu Mel, lewat jalur SBMPTN.”
“Siapa juga yang nangis. Iya deh,
mungkin ini memang jalan takdirku kali ya, “
“ceilah ungu niyee..”
“udah ah cape ngomongnya, pasti
pulsanya langsung abis nih. Yo ah Assalamualaikum.”
“haha pas awal aja ga pake salam,
iya Waalaikumsalam.”
BRUG!
Langsung kuhempaskan tubuhku ke kasur. Hufft.. memang dunia ini kadang
misterius dan banyak sekali rahasia di dalamnya. Mungkin benar kata Putri,
takdirku bukan untuk mendapat jalan yang gampang. Karena memang untuk mencapai
kesuksesan butuh jalan yang mendaki lagi sukar. Mbak Ika aja yang dari dulu
udah pinter, buat masuk kedokteran, belajarnya gila-gilaan, bimbelnya aja dua,
dan tiada hari tanpa belajar. Pulang sekolah, mandi, sholat, makan, belajar
lagi. Bangun tidur, setelah tahajud belajar lagi. Wah keren banget lah dia,
emang sungguh-sungguh pengen jadi dokter. Sedangkan aku, buka buku juga jarang.
Aduh, mimpi kali ya aku masuk Fikom.
Semenjak
mendapat keyakinan bahwa aku benar-benar harus berjuang di test tulis, aku
belajar lebih giat. Kuperbanyak waktu belajarku di bimbel. Kuikuti kelas-kelas
tambahan. Kuhilangkan rasa malu untuk bertanya pada guru ataupun teman sekelas.
Kuperbanyak membaca buku-buku catatan di malam hari. Tak jarang pula aku
bertanya pada Mbak Ika tentang pelajaran Matematika yang sering membuatku tidak
mengerti.
“Mbak,
ajarin trigonometri dong,” pintaku suatu malam.
“Waduh,
udah lupa tuh yang kaya gitu. Di kuliahan gak ada.” Mbak Ika yang asik membaca
novel, menjawab
“Yah
Mbak, masa sih di kedokteran gak ada. Ya pasti ada dong..kan ipa.”
“
Lah kamu kan masuk ips, ko nanyain matematika?”
“Ya
ada dong Mbak ips juga. Matematika dasar.”
“Oh
iyaya. Ya udah sini. Bentar ya, Mbak bawa buku bank soal dulu.”
Hari-hariku
berlalu dengan latihan latihan dan latihan. Sering kali aku merasa percuma dan
menyerah. Tapi tulisan “FIKOM” di dinding kamar yang aku sengaja buat besar-besar
selalu sukses membuatku bangkit lagi. Tak jarang pula Bunda, Ayah, dan Mbak Ika
membantu dan memotivasiku belajar. Di saat aku capek dan jenuh, aku
berjalan-jalan keluar atau bersepeda keliling komplek.
Selasa,
4 Juni 2013. Hari terakhir pendaftaran SBMPTN. “Meli.. cepetan beli PIN!! Makin
lama makin susah. Di Bank sekarang sering gangguan.” “oh iya oke oke, aku ke
Bank sekarang.” Langsung kututup handphone dan dengan terburu-buru kuraih jam
tangan. “Mbak.. Aku ke Bank..” teriakku
sambil berlari keluar rumah.
Bank
penuh serasa pasar. Beberapa orang duduk di ruang tunggu. Dan tak sedikit pula
yang berdiri menunggu bahkan sampai keluar pintu Bank.
“Mau daftar SBMPTN Mbak?” seorang
bapak menyapaku yang sedari tadi ‘celingak-celinguk’.
“Oh iya Pak.” Jawabku canggung.
Aku ditunjukkan untuk mengisi
beberapa identitas diri. Tiba-tiba tanganku terhenti. No. KAP SNMPTN? Waduh,
mana aku hafal, kartunya ketinggalan lagi. Kulirik jam tanganku, 14.30 WIB.
Bank tutup jam 15.00 sedangkan membeli PIN hanya bisa dilakukan di Bank. Sialnya,
handphoneku mati . Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar Bank dan
menyetop angkot. Beruntung, angkotnya sedang tidak ngetem dan tidak macet.
14.15 aku sampai rumah. Segera kucabut kartu SNMPTN yang menempel di dinding
kamarku. Sejenak aku berhitung. Lima belas menit perjalanan angkot, belum
macetnya. Di luar rumah, kutangkap sosok Om Gunawan memasukkan motor,
sepertinya pulang kuliah. Segera kuberlari ke arah pamanku. “Oom.. anterin
sekarang ke Bank!! Lima menit yaa..”
Ketegangan
yang panjang. Berbagai hambatan dalam pendaftaran akhirnya telah aku lewati.
18-19 Juni adalah hari dimana perang itu dimulai. Alhamdulillah aku
menjalaninya dengan tenang dan lancer. Dan akhirnya tibalah hari ini,
pengumuman, 8 Juli, dua hari sebelum Bulan Ramadhan 1434 H. Ayah dan Bunda menasihatiku
supaya menerima dengan lapang dada semua keputusanNya. Aku siap!
“Melii…kamu lulus di FIKOM
UNPAD!!!!”
Alhamdulillah….kado terindahku
menjelang Ramadhan.
Cerpenku yang kubuat untuk ikut lomba bikin cerpen di Nulisbuku, tapi ga menang :')
tak apa, kalah biasa. ngga akan sukses kalo belum kalah, ya gak?!
ini adalah cerita pengalaman juga. gabungan dari pengalamnku, pengalaman beberapa temanku juga. bahkan mimpi si tokoh utama , adalah mimpi salah satu temanku, FIKOM UNPAD. Alhamdulillah... mungkin cerpen ini bisa jadi doa juga, temanku lulus di SBMPTN, FIKOM. walaupun bukan unpad, tapi UPI. tapi itu juga patut disyukuri. aku seneng banget dia lolos disana, soalnya se-universitas sama aku.. :D
si salma -________-
BalasHapusehehehe aduh geningan ketauan..:P
HapusHallo, aku revita dari majalah Gogirl! aku tertarik nih sama cerita kamu. soalnya cerita kamu related sama salah satu topik yang bakal diangkat di Gogirl. bisa ngga kita ngbrol-ngobrol lebih jauh soal pengalaman kamu lolos SBMPTN. ini emailku revitaritarani@yahoo.com, kamu bisa kirim nomor kontak kamu. nanti aku hubungi. looking forward for it :)
BalasHapushalo juga :D
BalasHapussilakan, kita bisa ngobrol-ngobrol tentang SBMPTN ;)