Sebuah Perjalanan

 

Suatu hari di Bulan Juni sebuah surat diantar Pak Pos ke rumah. Sebuah undangan pernikahan yang di depannya terdapat dua nama yang salah satunya kukenal tidak asing. Kubuka dan kubaca kata demi kata di sana hingga sampai pada lokasi undangan. Satu kota lumayan jauh dari sini. Kucek telepon genggam, beberapa pesan datang bersamaan menanyakan apakah aku akan hadir pada pernikahan yang undangannya sedang kupegang ini. Kubalas pesan mereka dengan ketidakpastian. Sebenarnya jadwalku tidak bentrok. Seharusnya aku kosong pada hari itu tapi selalu ada kekhawatiran akan hal darurat yang mungkin saja terjadi.

Aku mulai menyiapkan rencana-rencana. Kulihat daftar teman yang berdomisili di kota tersebut, mungkin ada yang bersedia diinapi. Teman A sedang di luar pulau. Teman B sedang pulang ke kampung halaman, mengingat hari itu masih hangat dengan suasana hari raya. Teman lainnya tidak bisa dihubungi. Ternyata temanku tidak banyak. Aku lihat kemungkinan untuk tidak menginap. Pulang-pergi masih mungkin kulakukan, aku bukannya akan pergi jauh ke luar pulau. Yang dipikirkan selanjutnya adalah transportasi. Naik kereta mungkin nyaman dan cepat tapi tidak banyak stasiun daerah sana. Membawa kendaraan tidak mungkin, selain tidak berani aku pun tidak akan mendapat izin. Naik bis atau travel jadi alternatif terbaik. Tapi kata salah seorang teman, naik bis susah untuk mencapai daerah tujuanku. Ia menyarankan travel yang akhirnya kuturuti sarannya.

Hari itu tiba. Dari hari sebelumnya setelah mantap memutuskan untuk pergi dengan travel, aku sibuk mengemas barang-barang agar jangan sampai ada yang ketinggalan. Kado yang sudah kubeli dari jauh-jauh hari kusimpan baik agar tidak rusak bungkusnya. Pakaian terbaik kusiapkan bukan untuk menarik perhatian tapi agar tidak memalukan.

Jam setengah tiga dini hari mobil Elv putih sudah siap di depan rumah. Bapak yang menghampiri dan mewanti-wanti agar aku hati-hati. Pertama kali melepas anak gadisnya pergi sendiri ke tempat yang jauh. Kuyakinkan bapak kalau aku pasti akan baik saja. Jam 3.00  mobil berangkat menuju pusat kota, menyusuri jalanan gelap yang sama sekali berbeda ketika tiap hari kulewati di siang hari. Dari pak sopir aku tahu penumpang hari ini hanya aku seorang. Walau hanya satu tapi mereka tetap mengantar. Suasana di dalam mobil menjadi lengang begitu pembicaraan berhenti. Tak ada yang mau membuka obrolan kembali. Dari belakang berkali-kali kulihat pak sopir menggosok rambutnya, khas gaya bapak kalau mengantuk ketika menyetir. Pikiranku mulai meliar kesana kemari. Kucoba menghentikan bayangan-bayangan buruk yang kerap muncul ketika gelisah. Doa kupanjatkan dalam hati agar perjalanan ini lancar sampai tujuan.

Waktu seolah berjalan lambat. Aku sulit sekali memejamkan mata. Memasuki subuh, di sebuah persimpangan, mobil berhenti dan sopir meminta izin untuk solat dan beristirahat sejenak, sewaktu aku nyaris terlelap. Aku hanya mengangguk dan menjawab bahwa aku sedang tidak solat sehingga tidak akan keluar mobil. Kulanjutkan tidur yang sempat terputus.

Setelah pemberhentian itu aku tidak bisa benar-benar tidur. Cahaya mulai masuk pantulannya dari jendela yang kini terlihat pemandangan di luar sana. Lampu-lampu yang tadi subuh kulihat semua tergantikan oleh pepohonan hijau dan sawah terbentang. Beda jaub dengan pemandangan di kotaku yang hanya ada aspal dan beton menjulang. Belum terlihat banyak orang, hanya beberapa membawa berbagai barang dagangan yang kukira menuju ke pasar. Menjelang terang, aktivitas di luar jendela mulai ramai. Beberapa anak berseragam berjalan santai, bel masuk sekolah masih lama berbunyi. Rumah makan mulai melayani mereka yang belum sarapan. Kendaraan beroda dua dan empat mulai memenuhi jalan walau tidak sebanyak di tempat asalku.

Menjelang pukul setengah tujuh mobil memasuki kota yang dituju. Aku tau dari sopir yang belum juga berhenti mengusap rambutnya. Kota ini sejuk tapi tidak terlalu dingin dan tidak seramai kota sebelumnya yang kulewati. Plang jalan coba kubaca satu per satu. Beberapa namanya terdengar asing, sama asingnya dengan diriku yang pertama kali menginjak kota ini.

Sopir menanyakan lokasi pemberhentianku. Karena tempat tujuanku terlalu jauh dari pusat kota, sopir keberatan mengantar - ditambah alasan jalan yang tidak mulus untuk mencapai sana. Ia meminta ongkos tambahan jika diantar sampai lokasi. Kulirik jam tangan, jam 06.50. Estimasi waktu yang kusiapkan 8 jam ternyata sama sekali salah. Perjalanan hanya berlangsung 4 jam saja. Bagaimana mungkin sepagi ini aku sudah berada di lokasi undangan? Padahal saudara juga bukan. Akhirnya kuputuskan untuk tidak perlu diantar sampai lokasi tujuan, cukup sampai pada salah satu terminal yang jaraknya lumayan dekat dari tempat tujuan. Setelah berunding sejenak, mobil hening kembali menyisakan suara mesin dan suara di luar yang semakin ramai. Terlihat beberapa toko bertuliskan "oleh-oleh" menyajikan panganan khas kota ini. Dijajakan di dalam etalase, digantung, dikemas dalam plastik, ember, ataupun daun pisang, baik dengan kondisi siap makan maupun perlu diolah lagi. Selain panganan, banyak juga barang lain yang dijual seperti kain, tas, pakaian, sepatu, topi, hingga gantungan kunci. Toko-toko itu berjarak berdekatan sehingga pelancong yang datang punya banyak pilihan. Semakin dekat terminal, semakin berjamur toko yang menjual buah tangan tersebut, mulai dari yang berukuran besar dan dipasang tulisan-tulisan yang menarik perhatian orang, sampai toko kecil yang menyerupai warung. Belum semuanya buka, beberapa masih tertutup pintu kayu atau aluminium.

Pandanganku masih terpaku di luar jendela sampai sopir mengatakan bahwa kami sudah berada di terminal. Aku siapkan ongkos dan barang bawaan. Setelah membayar, sopir menyarankan alternatif kendaraan untuk sampai pada lokasi undangan. Beberapa sopir angkutan umum mulai menghampiri dan menanyakan tujuanku, termasuk seorang tukang ojek yang pangkalannya tidak terlalu jauh dari terminal. Bahkan salah satu satpam disana menghampiri dan heran melihat  seorang gadis sendirian dengan ransel besar di pundak. Aku putuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman di sebrang terminal. Dari satpam yang bingung tadi aku tahu kalau di taman itu ada toilet untuk sekedar membersihkan muka dan keperluan mendesak lainnya.

Tamannya cukup besar, tempat sentral di daerah ini, mungkin sengaja dibuat berdekatan dengan terminal tempat banyak orang lalu lalang. Aku duduk di kursi menghadap lapangan basket. Sejuk sekali rasanya, belum ada udara kotor yang mencemari. Sambil memainkan hp, sesekali aku memperhatikan seorang bapak yang sedang bermain dengan kedua anaknya di tengah lapang. Beberapa pesan masuk dari orang rumah menanyakan kabarku disini. Sejenak aku sibuk membalas pesan mereka.

Cukup lama aku di taman itu, mencoba mengulur waktu berharap waktu berjalan cepat sampai suara ribut terdengar dari pinggir lapang. Sekitar enam atau tujuh anak berdatangan menuju spot bertuliskan “free wifi”. Ribut-ribut mereka seperti membicarakan game atau battle atau entahlah. Jam ternyata sudah menunjukan pukul setengah sembilan. Setelah mengisi perut sebentar dengan kupat tahu di depan lapang, aku berangkat menuju lokasi dengan ojek yang sedang mangkal tak jauh dari terminal.

Benar saja, jalan menuju lokasi sulit untuk dicapai mobil. Berkelok-kelok dan berbatu. Namun perjalanan tidak terasa jauh karena obrolan bersama mang ojek yang kesana kemari. Mulai dari janji pemerintah akan pengaspalan jalan, kondisi di daerah itu dulu, turis-turis yang berdatangan, sampai masa lalu mang ojek yang ternyata dia pernah tinggal lama di kotaku sampai akhirnya harus kembali ke kampung halaman untuk menemani orangtuanya. Beberapa kali motor menepi untuk memastikan jalan dan menanyakan kepada warga setempat. Lokasi undangannya ternyata tidak bisa diakses dengan  motor. Terpaksa kami menepi dan aku harus berjalan kaki.

Sepanjang jalan setapak aku mulai berpikir dan menanyakan kepada diri sendiri untuk apa aku pergi sejauh ini? Mulai dari dini hari berada di mobil travel sendirian, ditatap orang-orang yang keheranan melihat aku seperti luntang lantung di kota asing, lalu setelah ini aku akan langsung pulang dan perjalanan akan selesai. Apa perjalanan ini sia-sia mengingat banyak uang dan waktu yang keluar. Tapi semua pikiran itu hilang begitu aku melihat beberapa anak berlarian menuju tenda besar berhiaskan janur kuning, bertuliskan sebuah nama yang mengisi buku harianku bertahun-tahun ke belakang.

 kalau kamu menikah, kabari aku dari beberapa bulan sebelumnya supaya aku bisa menyiapkan diri. Dimanapun, kapan pun, aku akan datang meski aku tahu saat itu aku bukan lagi siapa-siapa.”

            Dengan mantap kulangkahkan kaki menuju tenda besar sambil berpikir untuk segera mengakhiri perjalanan ini.

 

 

Februari, 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru