Aku Angin Engkaulah Samudra – Tasaro GK



Ketika resti mengembalikan buku ini, ada pertanyaan buat aku sendiri. “Loh aku sendiri udah baca belum sih?”

Sambil menghabiskan waktu di kantor, akhirnya kubacalah lembar demi lembar.

Beberapa halaman pertama. “Kan bener aku udah pernah baca.”

Beberapa halaman selanjutnya “Loh kayanya aku belum baca deh, aku gatau lanjutan ceritanya bakal gimana.”

Semakin menuju tengah. “Eh bener nih aku pernah baca. Nama nama tokohnya ga asing.”

Gitu aja terus sampai akhir cerita.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ternyata buku ini memang remake dari “Serambi Mekah” yang pernah aku baca dapet minjem dari Pitimos.
Kalau dilihat dari tebalnya sih, buku yang ini lebih tebal beberapa halaman jadi tentu saja banyak tambahan dan hal hal berbeda.
Menceritakan perjalanan kehidupan Maruto yang membentuknya hingga saat ini. Mungkin tambahan ceritanya disini ya. Banyak cerita kehidupan Maru ketika dia mengalami masa remaja, kehidupan sekolah, kuliah, organisasi,  kampus, dan jurnalismenya.
Inti dari cerita sebenarnya tentang persahabatan dua anak kecil dari Gunung Kidul yang terpisah lalu bertemu kembali saat mereka dewasa. Samudro yang bercita-cita menjadi tentara dan Maruto yang namanya berarti angin.

Tiga perempat dari isi buku berkisah tentang pergolakan yang terjadi di Aceh antara TNI dan GAM yang menolak NKRI. Diambil dari sudut pandang pertama, mengisahkan perjalanan penulis mulai dari dia remaja ketika mendengar Aceh dari cerita teman temannya sampai akhirnya dia memutuskan sendiri untuk berangkat kesana. Tidak berpihak pada salah satu kubu (TNI ataupun GAM), penulis berusaha mengangkat segi kemanusiaan yang tercerabut ketika perang berlangsung. Penduduk Aceh sebenarnya hanya ingin daerah mereka damai dan tenang, terlepas dari siapapun kubu yang akan menang.

Membaca ini seperti membaca agenda harian seorang wartawan yang senang bersahabat. Rasanya selalu ada tokoh baru di setiap bab. Masa remajanya di sekolah, persahabatannya dengan beragam jenis orang mulai dari yang alim sampai yang sering ‘main perempuan’, sobat kentalnya yang senang berorasi, teman teman Acehnya yang mempengaruhi pemuda ini menjadi begitu tertarik dan hafal dengan Aceh sampai dia sendiri sering dikira berasal dari provinsi berjulukan Serambi Mekah itu. Semuanya diceritakan dengan runtut, seperti melihat kilasan film dalam perjalanan hidupnya.

 Motivasi terbesar pemuda ini hinga akhirnya memutuskan pergi ke Aceh adalah karena sahabat kecilnya dari Gunung Kidul, Samu. Bertahun-tahun tak ada kabar, dipisahkan oleh jarak, dengan tiba- tiba Samu yang telah menjadi tentara dan sedang bertugas di Aceh, menghubunginya. Celana loreng bolong penuh kenangan dan penghargaan dikirimkan lewat pos. Dari sanalah mereka mulai bertukar kabar kembali, bertukar cerita hingga berlarut-larut malam. Dan tambah kayalah pengetahuan Maru akan daerah itu, tentu saja dari sudut pandang Samu sebagai anggota TNI. Sampai akhirnya Maru memutuskan untuk menulis buku tentang Aceh, berbekal semua cerita dari teman temannya, dan berita yang banyak sekali dia dapatkan – mengingat dia yang seorang wartawan. Namun merasa belum cukup referensi, Maru merasa harus bertolak kesana untuk melihat dan merasakan sendiri suasana daerah yang selama ini memenuhi pikirannya.   

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati membaca buku ini walaupun termasuk lama untuk ukuran “buku yang dibaca  kedua kali”. Kenapa aku ga begitu ingat ya ketika membaca pertama kali? Apakah kurang berkesan atau bagaimana. 
Tapi ada satu hal yang membuatku terganggu ketika membacanya. Kebingungan akan sudut pandang (?). Entah ya memang ada hal seperti itu yang baru aku tahu atau memang ada kesalahan. Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang pertama tapi seringkali pada kalimatnya penulis menggunakan kata “dia” untuk menunjukkan kata “aku” yang memang menjadi tokoh utama. Beberapa kali bahkan hampir keseluruhannya seperti itu. Aku baru menemukan hal yang barukah? Atau wajar saja? Akunya saja yang belum terbiasa dan merasa asing. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru