#Ngomongin Bukuagatha
Laki-laki tua yang lemah seperti ini, begitu
kurus, kering tetapi dalam kematiannya begitu banyak darah…" Suara Hercule
Poirot menghilang. Si tua Simeon Lee mengundang seluruh keluarganya untuk
bersama-sama merayakan Natal di Gorston Hall. Dia menciptakan hiburan bagi
dirinya sendiri dengan mempermainkan nafsu serakah mereka. Permainan ini
ternyata mengusik kekuatan dan nafsu terpendam yang akhirnya membawa
kematiannya. Hercule Poirot menghadapi kasus pembunuhan yang direncanakan
dengan sangat cermat dan dilaksanakan dengan brilian, tetapi... ada terlalu
banyak darah!
Makin lama mulai
terbiasa dengan kasus kasus pembunuhan dalam buku Agatha. Kebohongan alibi dari
setiap orang, balas dendam, motif yang aneh, dan orang yang tidak disangka
sangka. Tapi semuanya sama. Sama sama mengejutkan dan bikin terpana. Dibuat
pembaca berputar putar memikirkan antara a dan b lalu c selanjutnya d sampai z.
Semua hal menjadi mungkin! Bahkan sampai di titik klimaks semua persepsi masih
bermunculan tidak pasti. Seperti di Buku Catatan Josephine. Belum ada titik
terang sampai semuanya benar benar terungkap. Bahkan sampai akhir halaman aku
masih mengira ngira siapa pelakunya. Dan bener aja, dugaanku (lagi lagi) salah.
Kecuali kumpulan
cerpen Anjing Kematian sih yang menurutku lebih banyak unsur supranaturalnya.
Bikin merinding sekaligus penasaran kaya lagi nonton The Conjuring. Sebenernya
aku lebih suka buku ini daripada yang lain. Yang pertama karena ceritanya
pendek pendek jadi bisa dibaca lagi kapan aja (kebiasaan kalo baca lama banget,
sampe suka lupa jalan ceritanya tentang apa wkwk), terus kalau cerpen
penyelesaiannya seringkali menggantung, membiarkan pembaca menginterpretasikan
sendiri endingnya. Tapi kalau dilihat dari review orang-orang tentang buku
Agatha, dia jarang banget bikin kumpulan cerpen. Mungkin ini satu satunya yang
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Pembunuhan di Malam Natal
Korban pada
kasus di buku Ini juga mirip mirip dengan korban di buku lain (yang sudah aku
baca). Seseorang yang menyebalkan, bebal, emosional, dibenci sekaligus
disenangi banyak orang, punya tahta atau harta atau keduanya. Mungkin sengaja
dibuat seperti itu agar motifnya bisa beragam? Mungkin yaa..
Si tua Simeon Lee yang punya anak banyak dibunuh di malam natal ketika semua anak sahnya
sedang berkumpul.
Kebetulan atau
memang direncanakan? Ketika aku sudah selasai membacanya dan sedang membuat
tulisan ini aku baru tersadar dan semua jadi terang benderang - alasan ia
melakukan di hari itu. Ya tentu saja agar semua orang menjadi tersangka.
Untuk selanjutnya
aku ingin menyebutkan beberapa tokoh yang mungkin akan ada beberapa spoiler
jadi untuk yang belum membacanya dipersilakan angkat kaki atau bebas jika
memang masih mau disini :P
Pilar. Aha aku
tau dia punya hubungan dengan Stephen Farr atau siapapun itu. Dan kecurigaanku
pun kuat kalau dia pembunuhnya. Kejadian yang membahayakannya cuma trik semata
biar orang lain tahu kalau pelaku mengincarnya juga.
Stephen. Kenapa
kisah mereka diceritakan paling awal? Tidak mungkin kalau tidak ada suatu
penting yang mesti dicermati. Ucapannya bohong kalau dia anak dari kolega Simeon Lee yang baik baik saja. Pasti ada tujuan lain membuatnya kesana. Penipu ulung
itu benar mengelabuiku dengan alasan kasmaran.
Lydia Lee. Kepercayaan
dirinya itu mengganggu. Alibinya yang sempurna apalagi. Lalu cara bicaranya yang
sinis dan sombong seolah dia memang suci dan tidak tahu apa apa. Penulis bisa
banget membuat pembaca mengira ngira dan penuh curiga.
David Lee, Harry
Lee, Hilda, Magdalene, Alfred
Semuanya bukan
orang jujur. Atau tepatnya aku yang meragukan semuanya dari cara penulis
memaparkan. Karakter dibuat abu abu, samar, dan labil. Namanya juga teka teki.
Bentuk 1 puzzle saja tidak jelas bagaimana mau membentuk sebuah kombinasi yang
sempurna?
Meski ada mis
dan beberapa pertanyaan seperti apa maksud obrolan Alfred dan Lydia di awal,
omongan para gadis yang mencurigakan, ketidak sukaan si a pada si b, ketakutan
seseorang yang tidak mendasar, tidak terjawab sampai akhir cerita. Tapi lagi lagi
aku temukan jawabannya saat menulis ini. Tentu saja itu trik penulis. Tidak
semua pertanyaan pembaca terjawab, semua suka suka yang bikin toh? Bahkan
kalaupun ceritanya dibuat mengambang tanpa ada kepastian pelakunya, itu hak
penulis saja- kalau dia tidak mempertimbangkan perasaan pembacanya- tapi
setelah membaca beberapa bukunya sepertinya Agatha tidak akan seperti itu.
Aku gamau menulis
lagi lebih jauh karena takut menimbulkan spoiler yang lebih gawat ehe. Intinya
membaca cerita yang ini (hm semua karya Agatha sih lebih tepatnya), kita mesti
melihat dari banyak sudut pandang dan memperhatikan setiap kata yang ada.
Sebenarnya penulis sudah memberi kode di beberapa percakapan yang mengarah pada
pelaku sebenarnya. Kenapa si A begini, kenapa dia mengatakan itu, sungguh harus
jeli dan jangan cuma pusing di gulungan benang kusut yang tiada ujungnya.
Terkadang kita harus berpikir di luar batas normal atau bahkan berpikir
sederhana layaknya celetukan anak anak. Karena sebenarnya semua orang punya
kesempatan dan niat jahat, baik itu akan dilakukan ataupun tidak.
Komentar
Posting Komentar