Tentang Hari Lahir

Pada suatu kesempatan seseorang pernah bercerita tentang kisah 3 orang sahabat di jaman Nabi. Tepatnya mereka termasuk Shahabat Nabi atau Tabi'in aku lupa. Intinya mereka adalah sahabat yang rajin beribadah dan sama sama mendambakan syahid, hingga dua orang di antara mereka gugur dalam sebuah perang. Beberapa lama setelahnya satu orang yang tersisa ini akhirnya menyusul kedua sahabatnya. Namun dia meninggal bukan di medan perang seperti yang ia inginkan. Ia meninggal dalam keadaan sakit.
Singkat cerita di akhirat ketiga sahabat ini bertemu kembali dan akan masuk ke dalam surga. Urutan masuknya dimulai dari sahabat yang terakhir meninggal, lalu diikuti sahabat sahabatnya yang gugur di medan perang.
Sampai pada bagian ini aku heran dan bertanya-tanya kenapa yang lebih dulu masuk surga adalah orang yang meninggalnya karena sakit? Bukan yang mati syahid - yang aku tahu sudah jelas predikat 'mati syahid' ini adalah predikat sangat mulia. Ternyata alasannya adalah umur panjang.

Aku suka mendengar orang mendoakan 'semoga berumur panjang' pada hari lahir teman atau keluarganya. Bahkan di dalam lagunya pun terdapat lirik tersebut.
"Selamat panjang umur kita kan doakan"
Kenapa harus panjang umur? Dulu aku berpikir orang baik tidak diberi umur panjang. Orang bilang, "Allah terlalu sayang sama dia hingga meninggal di usia masih muda."  atau sebaliknya, orang -orang jahat biasanya diberi umur panjang karena masih diberi waktu untuk bertaubat.

Banyak statement ini yang kuamini hingga ada keinginan untuk jadi 'orang baik'. bahkan aku pernah menemukan tulisanku beberapa tahun lalu tentang keraguan akan menjalani hidup seandainya akan makin banyak berbuat dosa. Untuk apa diberi umur panjang jika semasa hidupnya hanya dipakai untuk berbuat maksiat?

Apakah itu hanya kegelisahan seorang remaja labil yang masih mencari cari jati diri? Sejujurnya pemikiran seperti itu masih suka muncul walaupun hanya setitik dan hadir di alam bawah sadar.

Kembali ke cerita yang tadi bagaimana umur panjang bisa jadi alasan seseorang masuk surga dengan cepat melebihi mereka yang mati syahid. Jawabannya adalah karena sisa hidupnya dipakai untuk terus beribadah dan berbuat kebajikan sehingga dia punya banyak bekal untuk akhiratnya melebihi sahabat sahabatnya yang punya waktu hidup lebih sedikit.

Cerita seperti itu sebenernya cerita biasa dan akan kita temukan di situs online mungkin jika kita mencarinya. Tapi entah kenapa langsung terngiang olehku bahkan sampai saat ini (kalau ga salah aku mendengar cerita ini sebulan yang lalu).

Sampai aku memikirkan lagi tentang hakikat hidup dan hari lahir. Ternyata doa 'semoga panjang umur' itu memiliki makna dalam apalagi jika dilanjutkan dengan 'umur yang berkah dan selalu dipenuhi dengan kebaikan'. Minimal jika aku kehilangan semangat dan motivasi, ingat saja untuk terus beribadah karena ini akan menjadi bekal di akhirat.

Kalau mengingat tulisanku dulu, rasanya pengen julid juga " heh kamu, sosoan pengen hidup pendek, emang udah siap? emang udah punya bekal? atau bahkan jangan jangan yang selama ini dianggap sebagai bekal, malah ga diterima oleh Allah SWT?" rasanya ingin nangis jika mengingat itu.

Tidak ada yang salah dengan umur panjang, umur pendek, yang terpenting bagaimana kita mengisi hidup kita di umur tersebut.

Perlu juga momen sebagai reminder introspeksi diri dan memikirkan lagi tentang apa dan siapa, kembali fokus pada tujuan kehidupan, memilah milih baik dan buruk untuk mengisi usia yang kita tak pernah tahu kapan berhentinya. 

Akhir kata, terimakasih untuk semua doa dan ketulusan yang berarti. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang selalu diijabah doanya. 

“kiranya betul bahwa hari paling penting dan paling bahagia dalam hidup manusia adalah hari ketika dia tahu untuk alasan apa dia dilahirkan ke muka bumi ini”(Andrea Hirata, Orang-Orang Biasa)




Salma si anak mamah >.<

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru