Chamomile Tea For Wonderful Moms


Hal pertama yang buat aku tertarik buat baca buku ini adalah tentu saja covernya! Ilustrasi kartun berwarna seorang ibu dengan anak-anaknya. Lucu banget.. judulnya juga sangat menarik "Chamomile Tea For Wonderful Moms". Yang ternyata couple-an sama buku satu lagi yang berjudul "Chamomile Tea For Great Dads." Tanpa pikir panjang, aku langsung baca buku ini padahal antrian buku yang harus kubaca masih panjang (dan dia akhirnya nyelak barisan wkwk).  



 “Setiap ibu adalah pejuang. Bekerja di ranah public maupun domestik tidak sedikit pun mengurangi peran penting ibu dalam keluarga."

Buku based on true story dengan tebal 160 halaman ini merupakan kumpulan kisah dari beberapa penulis tentang perjuangan  seorang wanita berhati baja yaitu ibu. Dikemas dengan sangat ringan, buku ini cocok dibaca untuk menemani waktu luang, layaknya sebuah chamomile tea yang ternyata juga memiliki banyak manfaat. 

Beberapa kisah merupakan pengalaman penulis sendiri. Ada juga yang menceritakan tentang ibunya, rekan kerjanya, atau siapapun wanita yang menginspirasi hidupnya. Poin yang paling aku tangkap dari kisah mereka adalah tentang isu yang sering muncul ketika mengangkat tema tentang ibu yaitu pilihan seorang wanita untuk menjadi stay at home moms atau work moms. Menjadi ibu yang selalu ada untuk anak anaknya tentu diinginkan oleh semua wanita. Tapi terkadang takdir tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Situasi dan kondisi membuat kita tidak bisa memilih dan setiap orang akan selalu mencari jalan keluar untuk bertahan hidup. 

Kisah seorang penulis misalnya, tentang seorang wanita yang rela meninggalkan pekerjaan yang ia senangi untuk menjadi stay at home moms. Ia menyadari menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika tanpa asisten. Mengurus anak, mengurus rumah, tidaklah bisa dianggap sepele perlu ilmu manajemen waktu, manajemen diri, kesabaran, dan mental yang kuat. Meski ia harus menelan pahit omongan orang-orang yang menyayangkan pendidikan magisternya.  

Sebaliknya, ada juga kisah tentang ibu yang harus bersedia bekerja di sebuah lembaga pendidikan yang lokasinya cukup jauh dari rumahnya, meninggalkan anak anak tercintanya demi kelangsungan hidup dan pendidikan mereka. Ia mesti rela pulang hingga larut malam ditambah lagi omongan miring para tetangga. Apalah artinya pendapat negatif orang lain jika dibandingkan senyum anak-anaknya karena perut mereka kenyang dan bisa tenang berangkat sekolah. Ada juga penulis yang menceritakan sosok wanita terhebat dalam hidupnya, ibu. Meski tidak berpendidikan tinggi, tapi seorang ibu selalu ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Dari kerja keras sebagai penjahit baju ia bisa menyekolahkan semua anaknya sampai sarjana. Dan dari ibunyalah, penulis terinspirasi hingga kini menjadi seorang desainer. 

Membaca buku ini mungkin memberi banyak pelajaran untuk menjadi seorang wonderful moms. Bahkan untukku yang menjadi mom juga belum. Tapi ya lebih dari itu, buku ini mengingatkan akan seorang ibu luar biasa dalam hidupku. Ibuku adalah seorang work moms yang bekerja setiap hari di sebuah kampus swasta. Aku teringat dulu setiap pulang sekolah jam 5 sore, aku jarang mendapati ibu di rumah. Beliau sering pulang sore hari bahkan tak jarang pula sampai isa masih berkegiatan di kampus. Begitu sampai rumah, aku tidak langsung mandi dan bebersih, tapi justru langsung menelpon ibu dan menanyakan kapan pulang. Biasanya kalau ibu menjawab, aku langsung tenang dan melanjutkan aktivitas lain. Tapi seringkali ibu tidak langsung mengangkatnya mungkin sedang sibuk atau karena hp nya yang memang sering kehabisan batre. Dengan pantang menyerah aku bisa menelpon terus menerus sebanyak apapun sampai diangkat. Kalau inget saat saat itu, kadang terselip rasa sakit yang dulu pernah aku rasakan. Ketika anak anak lain menuliskan di biodatanya makanan favoritnya adalah masakan ibunya, aku justru mengingat ingat masakan apa yang pernah ibu masak. Kita sering membeli masakan di luar. (Dulu ada di deket rumah, rumah makan yang sangat laku karena rasanya enak dan juga, murah. Selalu penuh, kalau kesana sore pasti sudah kehabisan). Hingga saat aku dewasa, ketika ibu sudah punya cukup waktu untuk memasak, aku baru menyadari kalau masakan ibu ternyata sangat enak. 

Yah jadi curcol -_- ya intinya dari membaca ini justru aku seperti melihat juga kisah ibu dan apa yang mungkin dipikirkannya sebagai work moms. Sedihnya aku begitu mendapati di rumah tidak ada ibu, mungkin beliau lebih sedih dari itu. Sedihnya aku karena jarang mencoba masakan ibu, beliau mungkin lebih sedih lagi karena tidak punya cukup waktu untuk memasak di rumah. Ibu sering berkata ingin di rumah saja, tidak perlu bekerja di luar. Jika ada waktu, ibu ingin beberes rumah, masak, berkebun, membaca, nulis, dan banyaak sekali hal yang bisa dikerjakan di rumah. 

Menjadi ibu bukanlah hal mudah. Tidak ada sekolah yang memberikan pelajaran untuk menjadi seorang ibu (meski sekarang banyak ya pelatihan-pelatihan atau kursus baik online maupun offline). Tidak seperti mengikuti ujian masuk SBMPTN atau CPNS yang bisa diikuti tahun depan jika tidak lulus, menjadi ibu tidak bisa coba-coba. 

 Siapapun kita, berapapun usia kita saat ini, kita pernah dilahirkan oleh seorang wanita dengan segala jerih dan payahnya. Kita tidak tau seberat apa perjuangannya yang tidak akan pernah terbayar oleh apapun. Karena setiap ibu, setiap orang tua, punya pola asuh masing-masing untuk mewujudkan cinta mereka. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru