Half Time

Dalam sepak bola ada istilah half time yaitu pertengahan pertandingan atau waktu jeda istirahat, saat pertandingan berhenti dan para pemain beristirahat sejenak. Disini pelatih memberi arahan, memberi petunjuk begini begitu, memberi tahu apa yang akan dilakukan langsung setelah peluit berbunyi tanda pertandingan dilanjutkan kembali. Karena waktu jeda hanya sebentar, maka setiap orang memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Pemain memperhatikan dengan seksama arahan pelatih setiap kata demi kata jangan sampai ada yang terlewat karena babak selanjutnya adalah penentuan kemenangan. Detik demi detik peluit akan segera berbunyi dan akhirnya pelatih menghentikan 'ceramah'nya. Selanjutnya sorak penyemangat baik dengan jargon maupun yel-yel untuk menambah atau men-charge kembali bergema pada babak berikutnya. Peluit tanda pertandingan dilanjutkan kembali berbunyi. Para pemain bergerak pada posisi masing-masing sesuai dengan arahan pelatih disusul sorak sorai supporter dari bangku penonton yang bergema seantero stadion.  Berlangsunglah pertandingan hingga peluit tanda selesai. 

 Dalam sepak bola atau pertandingan-pertandingan lain, sekalipun waktu jeda istirahat hanya sebentar saja, tapi sangat bermakna. Begitu peluit tanda istirahat dibunyikan, seketika pertandingan berhenti. Tidak ada lagi pemain yang menggiring bola di lapangan, tidak ada lagi kiper yang masih diam di depan gawang bahkan wasit pun istirahat sejenak. Seandainya tanda peluit itu diibaratkan dengan suara adzan yang apabila sudah memanggil, seketika semua orang menghentikan segala aktivitasnya. Yang di kantor, yang belajar, yang di ladang, yang berdagang, semuanya segera berbondong-bondong mengambil air wudhu dan beranjak pergi ke masjid. Waktu istirahat ini hanya sebentar saja tidak menghabiskan waktu banyak. Tidak sampai satu jam. Saat inilah waktu yang tepat untuk rehat sejenak dari aktivitas keseharian yang melelahkan. Membersihkan diri dengan berwudhu, membuat muka segar kembali setelah penat dan kantuk di kantor. Bersujud di hadapan Sang Pencipta dan mencurahkan segala isi hati setidaknya untuk men-charge kembali agar selanjutnya bisa mengisi hari yang tersisa dengan semangat. 

Tapi bagaimana jika waktu yang ada terasa sangat singkat? Sholat terasa diburu-buru karena harus berbagi waktu dengan hal lain seperti makan dan ke kamar kecil, hingga rasanya tidak akan sempat untuk mencurahkan segala isi hati dan curhat macam-macam. Rasanya sulit menemukan waktu yang tepat untuk itu. Maka jawabannya saya temukan setelah membaca buku karya Azhar Nurun Ala yang berjudul Konspirasi Semesta. Tepatnya jawabannya ada dalam pedoman hidup yaitu Al-Quran. Di buku tersebut tokoh utama diminta ayahnya untuk membacakan ayat dalam Quran Surat Al-Muzzammil. Tepatnya di ayat satu sampai empat yang artinya:

"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah pada malam hari kecuali sedikit. Yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari separuhnya itu, dan bacalah Al-Quran dengan perlahan-lahan."

"Sungguh. Bangun malam itu lebih kuat dan lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang."

        Setiap hari kita sibuk dengan segala urusan. Dari bangun tidur langsung beraktifitas berangkat kuliah, kegiatan organisasi, mengerjakan tugas, sampai pulang ke rumah, dan kesibukan lain hingga tidur kembali. Di sela-sela itu ada lima waktu istirahat yang sangat bermakna yang Allah SWT beri sebagai waktu untuk bermunajat, bersyukur dengan apa yang sudah diberikan, memohon ampun dan memohonkan apa yang kita minta dalam doa. Dan seperti dalam firman Allah SWT, ada waktu paling spesial  yang disiapkan untuk hamba-hamba-Nya yaitu di sepertiga malam ketika orang lain sedang tertidur. Karena...

“...bangun malam itu lebih kuat dan lebih berkesan...”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru