CANGKIR DAN GELAS
PROLOG
Pernahkah kau bertamu ke rumah seseorang? Tentu pernah.
Minuman apa yang disuguhkan? Apakah segelas kopi, segelas air putih, atau
secangkir teh? Seberapa besar ukurannya? Tentu sangat tidak sopan jika kita
tidak meminumnya, sedangkan tuan rumah sudah menyuguhkan. Oke, bukan disitu
masalahnya. Entah kau meminumnya atau tidak. Hal yang akan dibahas disini
adalah dengan apa minuman itu disuguhkan? Cangkir? Atau gelas? Terkadang orang
merasa masa bodoh dengan hal yang satu ini. Mengapa harus memperhatikan tampak
luarnya toh yang terpenting adalah isinya. Tentu ada perbedaan di antara dua
benda ini. Cangkir dan gelas.
Cangkir memiliki pegangan di sampingnya. Itu yang
membuatnya berbeda dengan gelas. Di
salah satu sisinya terdapat pegangan untuk memudahkan saat mengangkatnya. Orang
yang meminum minuman di dalamnya tidak akan merasakan panas. Hal inilah yang
menyebabkan cangkir lebih banyak digunakan untuk minuman panas.
Gelas sebaliknya.
Ia biasanya
tidak memiliki pegangan walaupun
banyak pula yang memiliki. Umumnya ukurannya lebih
besar daripada cangkir. Karena tidak memiliki pegangan, gelas lebih nyaman
dipakai untuk meminum minuman dingin, karena orang yang akan meminumnya akan
bersentuhan langsung dengan tubuh gelas. Jika di dalam gelas suhunya panas,
maka akan membuat tidak nyaman si pemakainya. Gelas sering kita temukan di
berbagai tempat. Rumah makan padang, warung tegal, penjual es cincau, penjual
es kelapa muda, dan toko makanan siap saji.
***
Sekali lagi kulirik arlojiku. 10.45 WIB. Sudah waktunya.
Dari balik jendela kelas 11 ini aku hanya bisa memandangi lapangan basket. Area
28 x 15 meter itu kini dipenuhi anak-anak kelas
sebelah yang sedang melaksanakan pelajaran olahraga. Sedang latihan
tanding sepertinya. Beberapa anak perempuan duduk di pinggir lapangan, sesekali
berteriak-teriak menyemangati, sesekali menjerit histeris. Pemandangan biasa.
Kau akan melihatnya di setiap pertandingan basket, mulai dari yang paling
rendah tingkatannya sampai pertandingan NBA sekalipun. Entah itu mereka yang
menonton di stadion atau dari balik layar kaca.
Pelajaran ‘penuh rumus’ ini masih berlangsung. Pak Deni
masih setia bercuap-cuap di depan kelas, tak peduli bagaimana keadaan kita di
depannya. Beberapa anak di depanku tertawa
cekikian melihat sebuah kertas yang dipegang Adi. Lagi-lagi. Kali ini Pak Deni
korbannya, tentu mukanya sudah ‘dicetak’
ulang oleh Adi dengan tangan emasnya. Tiga, mungkin empat anak di belakangku
sudah tak di kelas ini jiwanya, melayang ke pulau kapuk. Tiara yang duduk tepat
di belakangku sedari tadi sudah mencolek-colek jahil. Aku menoleh. Dia nyengir
sambil matanya mengerling ke arah mereka yang sudah mulai mendengkur. Aku
mengerti maksud sikapnya. ‘Tumben gak tidur’. Tentu saja. Jangan tanya apakah
aku sering tidur di kelas atau tidak. Coba kau tanya siapa juara tidur di kelas
11 tahun ini. Satu angkatan bahkan beberapa adik dan kakak kelas sudah tahu
kalau Dian dari kelas 11 IPA 2 ini adalah masternya.
Tapi hari ini berbeda.
Mataku masih terpaku pada lapangan basket. Seorang
anggota tim baru saja melakukan double dan beberapa detik kemudian Pak Emin,
guru olahraga, meniup peluitnya, tanda pelanggaran. Aku tak begitu tahu
peraturan-peraturan atau ketetapan yang ada dalam pertandingan basket ini. Itu
tidak membuatku tertarik. Menurutku tak ada bedanya dengan sepak bola. Hanya
bedanya, basket menggunkan tangan sedangkan sepak bola menggunakan kaki. Selain
itu, lapangan basket ukurannya lebih kecil, itulah yang menyebabkan pemain
basket lebih sering terlihat kelelahan. Entahlah, firasatku saja. Tapi di
antara dua permainan ini menurutku sama. Sama-sama mengejar-ngejar benda
bundar, keroyokan.
“Apa sih ramenya?
Ngejar-ngejar bola doang”
“Wah belum
ngerasain nih. Makanya ikut main dong”
“Gak mau, capek.
Tar kulit aku item kaya gitu iih…”
“eeh, cowo item
itu maco tau”
Aku tersenyum sendiri jika ingat obrolan itu. Maco?
Mungkin beberapa hari lagi aku akan jadi cewek maco. Mengingat kota ini
sekarang yang semakin panas, ditambah aku yang kini semakin sering berada di
luar rumah.
Orang-orang di luar sana masih bergerombol meributkan
pelanggaran yang dilakukan salah satu tim. Pandanganku masih ke arah mereka.
Tapi asal kau tahu, sedari tadi jiwaku
tidak disini.
SATU
Gelas kaca tak pernah berdiri berdampingan bersama
cangkir di etalase toko manapun. Dia berada disana, bersama puluhan cangkir
lainnya. Berdiri gagah dengan tatakan di bawahnya. Motif mereka sangat selaras
menarik perhatian. Selain tatakan, terdapat pula sendok teh perak yang dapat
disandingkan dengan porselen-porselen mewah itu.
Gelas itu masih
disana. Berharap bisa berkenalan dengan cangkir-cangkir di balik kaca. Sesekali
panggilannya yang berisik membuat para cangkir menoleh.
“Sstt.. ada
pelanggan. Diamlah, mereka akan membeliku.” Kata si cangkir bertekstur loreng
harimau.
“enak saja.
Tentu saja ia akan mengambilku.” Protes cangkir feminin yang penuh dengan warna
pink.
Cangkir-cangkir
lain tidak mau kalah. Mereka melenggak-lenggok dengan genit dan menunjukkan
keunggulan masing-masing. Dari arah jarak jauh pun, gelas dapat melihat
keindahan mereka. Teksturnya-teksturnya cerah dan ceria, berwarna-warni. Selain
yang berwarna muda, ada pula yang berwarna gelap elegan. Menimbulkan suasana
yang hangat, cocok sekali untuk dipakai menyeduh kopi atau susu coklat di malam hari. Bukan itu saja, mereka tidak hanya memiliki
tekstur yang memesona. Beberapa cangkir memiliki bentuk yang unik. Sebut saja
si cangkir harimau, selain tubuhnya dipenuhi dengan loreng, pegangannya berhiaskan kepala
harimau. Lalu pasangan cangkir hati, bentuknya seperti hati yang terbelah.
Mereka selalu bersama, tak terpisahkan. Karena jika tidak bersama, maka itu
akan menunjukkan hubungan yang retak. Sasaran pembelinya biasanya adalah
pasangan yang baru menikah. Dan begitu juga dengan cangkir lain. Ada cangkir
berbentuk kepala kucing, burung hantu, tempat pensil, daun, bak mandi, bola
basket, jam dinding, semuanya unik.
Gelas
memandangi tubuhnya. Bening. Tubuhnya yang terbuat dari kaca mudah pecah
berkeping-keping jika jatuh karena disenggol sedikit saja. Gelas hanya bisa
mengeluh pelan, mukanya terlihat muram. Ia tahu, sekeras apapun usahanya untuk menyentuh etalase
itu, ia tidak akan berada disana berdiri berdampingan bersama para cangkir. Mereka tidak
selevel. Gelas sadar, dan ia menunduk sedih.
“Kenapa kau murung wahai gelas yang budiman?”
Gelas menoleh.
Ia mencari-cari asal suara. Ternyata sebuah cangkir porselen yang amat indah
memanggilnya. Berlatarkan putih lembut dengan motif sepasang naga sedang
bercengkerama. Pilihan warnanya yang pas membuatnya terlihat sangat halus
bagaikan tak pernah tersentuh debu sedikitpun.
Beberapa detik
gelas hanya bisa ternganga melihat si
cangkir. Baru ia sadari itu adalah pertama kalinya ada
cangkir yang bertanya padanya. Buru-buru ia terseyum canggung.
“kenapa? Kau
terlihat sedih sekali hari ini.”
“Oh, eh,
benarkah?” gelas bingung sendiri. Dengan kikuk ia memeriksa tubuhnya, berkaca
pada etalase toko, yang percuma dilakukannya. Etalase itu tidak memantulkan
gambar dirinya. Sebaliknya, ia lagi-lagi hanya akan melihat cangkir-cangkir
indah itu.
Si cangkir
bermotif naga itu bertanya lagi. Gelas hanya menggeleng pelan sambil
tersenyum.
“Tidak apa-apa.
Aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya.”
“aku tahu kamu
tidak jujur. Aku dapat melihat kebohongan di matamu.”
“Tidak, tidak.
Percayalah, aku baik-baik saja.”
Cangkir diam
sejenak. “Baiklah kalau begitu. Tapi kalau kau merasa ada sesuatu, tak usah
segan-segan. Langsung panggil saja aku.”
“oke”
Cangkir pun
berlalu. Gelas hanya bisa memandangi dari kejauhan.
DUA
Kisah ini bermula sekitar sepuluh tahun yang lalu saat
keluarga kami menginjakkan kaki ke sebuah
rumah mungil. Kami pindah ke rumah kami sekarang saat aku
kenaikan kelas 4 SD. tak mudah bagiku untuk langsung beradaptasi dengan
lingkungan baru. Delapan tahun hidup di
tengah-tengah kota membuatku menjadi seorang anak yang tidak memiliki tetangga.
Hari-hariku diisi dengan bermain bersama adik dan saudara, itu pun hanya saat
mereka sedang berkunjung ke rumah. Kini rumah berukuran 54 m2 itu sudah dibeli
oleh teman ayah. Alasan ayah pindah ke kota yang baru adalah menurutnya kota
ini lebih asri daripada kota asalku, dan lebih tentram. Katanya lingkungan yang
tenang akan mendukungku untuk belajar lebih giat dan membantu kembang didik aku
dan adikku. Aku hanya mengiyakan tanpa bertanya banyak saat itu. Apalagi Ibu
dan Ayah bilang, di tempat baru ini banyak tetangga dan aku pasti menemukan banyak
teman. Aku sudah tak sabar menempati rumah baru yang dikelilingi tetangga.
Namun, berada di lingkungan yang baru tentu saja bukanlah
hal yang mudah. Beberapa hari pertama kepindahan, hanya kuisi dengan mengurung diri di kamar,
sekolah pada pagi hari, lalu pulang siang hari, dan masuk lagi ke kamar. Tanpa
ada sedikit pun kegiatan keluar rumah walaupun hanya ke warung untuk membeli
sebungkus terasi.
Suatu hari, ibu mengajakku menemaninya pergi ke salah
seorang tetangga untuk arisan.
“nanti disana banyak temen.” Katanya. Aku tak berkata
apa-apa, tapi tetap mengekor tubuhnya.
Benar saja, di rumah yang tidak terlalu besar itu banyak
sekali anak-anak yang sepertinya seumuran denganku. Rumah itu memiliki sebuah
ruangan besar yang memiliki dua fungsi, sebagai ruang keluarga dan sebagai
ruang makan. Meja dan enam kursinya digeser merapat pada tembok. Beberapa sofa kecil dipindah ke
teras rumah, membuat ruangan terlihat tambah lapang. Karpet besar digelar di
tengah ruangan dan para ibu-ibu duduk melingkar sambil mengobrol apa saja,
pekerjaan rumah, pekerjaan suami, sekolah anak, ataupun resep masakan. Di
tengah-tengah ruangan disajikan beraneka makanan kecil. Ini yang aku suka jika
ibu mengajak pergi arisan. Banyak makanan. Atau walaupun aku tidak diajaknya, pasti
ibu membawa beberapa bungkus kue kecil untuk kami makan di rumah.
Walaupun rumah itu tidak terlalu besar, tapi aku sangat
menyukainya. Ia memiliki halaman yang cukup luas. Tidak gersang. Beraneka
tanaman bunga menghiasi tampilan luar rumah tersebut, membuatnya tambah cantik.
Tak lupa beberapa pohon mangga dan rambutan yang sedang berbuah. Buahnya yang
masih muda memenuhi pohon itu. Berbeda dengan rumahku yang hanya ditanami oleh
tanaman lidah buaya dan tanaman obat-obatan.
Para ibu masih berbincang di ruang tengah. Sepertinya
pengocokan belum dimulai. Beberapa anak perempuan dan laki-laki sedang bermain
bola kecil di halaman. Beberapa lagi hanya memperhatikan, seperti yang saat itu
aku lakukan. Di dekat tempatku berdiri terdapat kolam ikan kecil yang minimalis
berbentuk persegi. Tak banyak ikan di dalamnya. Beberapa ikan koi yang
berwarna-warni sedang berenang kesana kemari dengan gerakan yang tenang. Di
musim panas, ikan koi memang terlihat lebih aktif karena kesehatannya lebih
stabil. Perhatianku pada ikan koi yang
menari-nari teralihkan beberapa detik kemudian.
“Hey anak baru”
Aku menoleh terkejut. Anak laki-laki itu tingginya hanya
berbeda beberapa senti denganku. Kulitnya menunjukkan bahwa dia sering berada di luar rumah. Sawo matang.
“Hey anak baru”
Ia memanggil
lagi. Aku diam saja. Dia anak yang baru saja bermain bola dengan
teman-temannya. Ia sudah berjalan pelan ke arahku. Jarak kami kini hanya kurang
dari semeter saja.
Aku menunduk takut.
“…..”
Aku terhenyak. Ia menyebutkan namanya. Tangannya sudah terulur di
depanku.
My first friend. Mungkin itu ungkapan paling pas
untuknya saat itu. Di saat anak lain hanya
berbisik-bisik mengamat siapa anak baru ini yang pindah di akhir bulan Juni, ia
tanpa basa-basi langsung memperkenalkan dirinya. Beberapa minggu kemudian aku
baru menyadari kalau anak berkulit sawo matang itu berbeda dua tahun di atasku.
Perkenalan pertama di acara arisan saat itu membuatku
mengenali beberapa anak di komplek. Dia mengenalkanku pada teman-temannya yang
akhirnya menjadi temanku juga. Ternyata rumah minimalis yang memiliki kolam
minimalis itu adalah rumahnya. Tempatnya yang stategis sering dijadikan tempat
berkumpul para ibu PKK, dan kebetulan saat itu ibunya mendapat giliran arisan.
Setelah hari itu, aku mencoba selalu ikut dalam acara
karang taruna dan lebih rajin pergi ke Masjid. Sebenarnya tujuannya satu, untuk
mendapat teman. Di masjid, aku berkenalan dengan anak perempuan lain dan diajak
mengaji bersama. Awalnya aku malu dan segan, tapi ternyata mereka menerimaku
dan membuatku nyaman.
TIGA
Sepuluh tahun lalu, aku masih berumur delapan tahunan.
Pindah ke lingkungan yang semuanya baru. Rumah baru, sekolah baru, suasana baru,
dan teman-teman yang baru. Hal-hal baru itu harus aku lewati dan itu berarti
banyak perubahan yang akan kujalani. Aku biasa pulang ke rumah langsung masuk
rumah dan menyetel tv. Kini tidak, pulang sekolah lalu berganti baju, lalu
bermain ke luar rumah-walau ibu kadang mengingatkan untuk makan dulu. Aku biasa
berdiam diri di rumah saat hari minggu. Kini tidak, kami bersepeda bersama dan
berlari pagi di lapangan rumput, lalu pulangnya ramai-ramai membeli surabi. Hal
yang belum pernah kurasakan di kehidupan sebelumnya. Pada awalnya aku tak
terbiasa dengan banyak perubahan. Aku sangat susah untuk beradaptasi di
lingkungan seperti ini. Tapi itu tak lama. Berawal dari saat hari diadakan arisan di rumah minimalis.
Sapaan pertama sekaligus perkenalan itu menghilangkan
sediki kecanggunganku. Dia menyadarinya. Diajaknya aku berkenalan dengan
teman-teman dan esoknya kami bersama teman-temannya berkeliling komplek,
memperkenalkan rumah mereka.
Rumah Pak Maman, tujuan pertama kami. Ketua RW 17 plus
pemilik anjing besar di komplek itu. Lucunya, anjing Pak Maman sama sekali
bukan anjing yang galak. Ia biasa bermain dengan anak-anak dan jarang ribut
dengan kucing jalanan. Sebaliknya, anjing itu yang diberi nama Herder itu-padahal sama sekali tidak mirip dan bukan anjing herder- seringkali diminta
tolong untuk membantu keamanan daerah kami. Menurut cerita salah seorang
tetangga, dulu daerah itu rawan pencurian. Semenjak Herder dibawa oleh Pak
Maman, modus pencurian disana mulai berkurang.
Selanjutnya, rumah paling tua plus rumah paling sedikit
penghuninya. Rumah Nek Ati. Nek Ati tinggal sendiri sedangkan anak-anaknya yang
semuanya laki-laki berkelana ke berbagai tempat. Ada yang masih satu kota, beda
kota, beda pulau, dan kabarnya ada pula yang saat ini sedang menuntut ilmu di
negeri tetangga. Nek Ati sudah tinggal disana beberapa tahun lamanya. Rumahnya
masih terlihat seperti peninggalan jaman Belanda. Nek Ati rajin sekali
merawatnya. Walaupun usianya sudah kepala delapan, tapi tidak bungkuk sedikit
pun dan tidak pikun. Rajin membaca dan berolahraga. Jawaban itu selalu yang
didapat setiap orang yang bertanya rumus awet mudanya.
Di belokan pertama ketika pertama kali memasuki
kompleks, terdapat pertigaan. Lurus untuk menuju lapangan dan masjid yang
menjadi sentral daerah kami. Dan di sebelah kanan, ada belokan menuju jalan
buntung. Di ujung jalan buntung itu, kau akan melihat sebuah rumah besar yang
dilindungi pagar tinggi. Rumah Pak Dadang. Pak Dadang adalah orang sibuk. Ia
seorang dosen di sebuah universitas swasta. Istrinya juga sibuk. Seorang pemilik toko aksesoris tak jauh dari rumahnya.
Mereka adalah contoh orang sukses. Tapi sayangnya, kesibukan sering membuat
mereka sulit berbaur dengan para tetangga.
Pelajaran mengenali rumah hari itu belum berakhir. Kami
hampir menjelajahi seluruh komplek tapi waktu tidak mengijinkan. Akhirnya tujuan
kami berakhir di tempat ini. Masjid Baiturrahman.
Masjid inilah yang kelak menjadi saksi perubahanku
sekaligus saksi bisu atas perbuatan-perbuatanku.
“Sa, ga akan madrasah?” hari itu kami sedang bermain
congklak di depan rumah Sasa.
“males ah. Mana aku belum ngapalin PR.” Sasa tak
mengalihkan pandangannya dari biji-biji salak.
Sambil memainkan giliranku, aku berkata lagi, “Ditanyain
Teh Mia lo, katanya kamu udah beberapa hari gak kesana.” Sasa hanya mengangkat
bahu cuek.
“Kamu kok rajin banget kesana? Emang ga capek, sekolah
sampai jam 2, terus dilanjut jam 5 ke madrasah?” dia tiba-tiba bertanya. Aku
sedikit kaget ditanya seperti itu. Capek? Entahlah. Mungkin iya, tapi selama
ini tak pernah terasa atau tepatnya tak pernah aku rasa.
Jika menurut kata pepatah, ada udang di balik batu, maka
itulah yang aku lakukan. Selalu ada modus di balik sesuatu. Kerajinanku untuk
datang ke madrasah ada alasan yang mendasar. Bukan untuk menuntut ilmu atau
karena takut dengan Teh Mia dan Teh Ninit, tapi karena seseorang lain.
Anak berkulit sawo matang itu rajin sekali ke Masjid.
Penampilannya tidak seperti anak kutu buku yang pendiam dan penurut. Kadang ia
memberontak, bahkan memprovokasi. Tapi ia anak yang mudah menyerap pelajaran.
Tidak pernah bisa duduk tenang. Setiap hari selalu saja ada yang dilakukannya
membuatnya kena omel Teh Mia. Mencorat-coret buku temannya, mengambil pensil
adiknya, bahkan bermain petak umpet di ruangan kelas. Aku pun tak lepas dari
perbuatan jahilnya. Entah berapa penghapusku yang dia pinjam lalu hilang.
Bukuku yang penuh dengan coretannya. Latihan tanda tangan, alasan konyolnya.
Lalu bekal makanku yang sering dia curi, lalu dibagikan pada semua anak disana.
Itulah salah satu yang kusuka darinya. Tidak pelit. Ia tidak pernah pelit dalam
hal apapun. Makanan, barang, bahkan pertolongan. Ia tidak pernah segan untuk
membantu teman-temannya yang sedang kesulitan.
Pernah suatu saat teman kami, Raka, tidak masuk lama
sekali beberapa hari lamanya padahal kami selalu melihat ia di pagi hari saat
berangkat sekolah. Setelah ditilik-tilik, ternyata Raka punya masalah yang malu
dia ungkapkan. Raka sulit untuk memahami pelajaran yang diajarkan di madrasah.
Merasa tertinggal, ia minder dan berniat untuk tidak melanjutkan. Tentu saja
kami tidak setuju. Kami ajak dan tarik supaya dia kembali bersama-sama kami.
Beberapa hari kami harus mendatangi rumahnya untuk mengajaknya lagi. Hari ini
tidak berhasil, kami coba esoknya, begitu seterusnya. Selain membujuk, kami
juga mengajarkan pelajaran yang kami dapatkan hari itu supaya dia tidak
tertinggal terlalu jauh. Itu kami lakukan beberapa hari lamanya. Hingga
akhirnya Raka luluh hatinya. Ia mau kembali belajar dan masuk madrasah kembali.
Dan semua itu adalah idenya.
Hari itu aku kagum padanya. Saat itu aku masih kelas 4
SD. Masih sangat bocah! Sama sekali tidak mengerti perasaan ini. Yang aku tahu,
aku senang berada di dekatnya. Aku selalu tersenyum dan tertawa jika sedang
bermain bersamanya. Dia selalu membawa keceriaan dimanapun dia berada. Dan aku
ingin seperti itu. Aku ingin hidupku ceria, maka aku ingin selalu berada di
dekatnya.
Dan kekagumanku
padanya kian hari kian membesar. Semakin sering kami berinteraksi, semakin rasa
itu tak terbendung lagi. Awalnya aku tak merasa perasaan yang aneh. Sampai aku menginjak
bangku SMP dan mulai mengetahui perasaan apa ini. Cinta monyet, begitu kata
teman-temanku. Aku tertawa saja ketika mereka mengatakan itu.
Jika mau membandingkan, di sekolahku banyak laki-laki
yang menarik, berwajah setingkat Zac Efron-dilihat dari bulan-, dan ditambah
latar belakangnya yang bukan dari keluarga biasa-biasa. Tapi mereka sama sekali
tidak membuatku terkesan.
Aku menginjak kelas 2 SMP, ia lagi-lagi membuatku
ternganga. Ia masuk ke salah satu SMA favorit
yang menurutku tidak mudah untuk memasukinya. Intensitas pertemuan kami
tidak sebesar dulu lagi. Tidak ada lagi berangkat sekolah bersama, tidak ada
lagi belajar bersama, bersepeda bersama, dan tidak ada lagi bermain bersama di
Rumah Pak Maman, bersama Herder. Semua itu kuanggap sebagai masa lalu. Aku harus menyadarinya
kalau semua itu tidak akan terjadi lagi. Kami sudah sama-sama beranjak dewasa.
Lagipula meskipun aku masih ingin melakukannya bersama lagi, belum tentu dia
memiliki pemikiran yang sama. Karena Ia hanya menganggapku teman, tak lebih
dari itu.
Fakta itu yang sering menyadarkanku. Menyadarkan siapa
diriku ini sebenarnya. Semakin aku mengetahui kelebihannya, eksistensinya,
prestasi-prestasinya, memang membuatku bangga. Tapi itu juga membuatku sakit.
Membuat dadaku terasa sesak. Membuatku merasa semakin jauh dengannya. Membuat
jarak ini seakan semakin melebar.
Aku tak kuasa membayangkan bagaimana diriku ini yang
tidak ada apa-apanya. Melihat prestasinya dimana-mana membuatku terus rendah
diri. Siapa aku ini, yang berani-beraninya mempunyai harapan untuk bersamanya.
Hanya seperti pungguk merindukan rembulan.
“Jangan lihat orang dari tampilan luarnya. Belum tentu
dalamnya sebaik luarnya.” Itu yang dia katakan saat aku melontarkan pujian
padanya. Aku tahu itu. Itu kata-kata biasa yang sering kita dengar dimana-mana.
Tapi jika dia yang mengatakan, entah kenapa seperti ada kekuatan tersendiri.
Jawabannya sungguh bijak. Membuatku semakin yakin padanya. Tapi anehnya hatiku
semakin sakit.
Kenaikanku ke jenjang SMA, berharap masuk ke sekolah
yang sama. Tapi ternyata Tuhan tidak berkehendak demikian. Aku selalu mengambil
hikmah dari apa yang terjadi dengan kehidupanku. Kucoba berpikir positif
mengapa aku tidak berada di sekolah yang sama dengannya. Mungkin sudah cukup
berada di satu lingkungan yang sama. Jika di sekolah harus bertemu lagi,
mungkin akan menimbulkan beberapa masalah. Bisa jadi aku tidak focus
mendengarkan guru karena memperhatikannya sedang berjalan di koridor, atau
tidak mendengar percakapan teman-temanku karena sibuk memperhatikan dia yang
sedang bermain bola di lapangan, dan mungkin, mungkin, mungkin, semuanya hanya
berupa kemungkinan. Tapi ada satu yang menurutku pasti. Jika kami berada di
satu sekolah yang sama, tentu rasa sakit ini semakin besar. Aku akan semakin
merasa rendah diri di hadapannya, mendengar kabarnya yang semakin sering
kudengar dan mudah didapat jika sampai hal itu terjadi. Maka, biarlah
keadaannya seperti saat ini.
***
Pembuatan cangkir ternyata melewati perjalanan yang
lumayan panjang. Dalam menjalani prosesnya dibutuhkan kesabaran. Mulai dari
pemilihan bahan, pengolahan bahan. Lalu teknik pembuatan, bisa dengan
menggunakan tangan langsung, teknik putar, dan teknik cetak. Pembuatan belum
selesai. Setelah itu masuk ke proses pengeringan. Benda keramik
diangin-anginkan pada suhu kamar. Setelah tidak terjadi penyusutan, pengeringan
dengan sinar matahari atau dengan mesin. Selanjutnya, masih ada dua tahap lagi
yaitu pembakaran dan pengglasiran.
Perjalanan panjang dan kesabaran itulah yang harus
dibayar oleh para pembeli benda keramik. Prosesnya memang butuh keuletan, tapi
hasil yang didapat pun akan memuaskan. Dan hal ini pulalah yang membedakan
cangkir keramik dengan gelas plastic biasa.
EMPAT
“Dian mau tidak?”
Aku masih terkejut mendengar tawaran yang tiba-tiba ini.
Baru saja teteh cantik di depanku menawarkan suatu penawaran yang belum pernah
terpikirkan sebelumnya.
“Dian bantu teteh ya ngajar ngaji.”
Guru ngaji! Mimpi apa aku malam tadi, bahkan saat aku di
rumah yang lama pun tak terbersit sekali pun untuk melakukan hal itu.
“Apa teh? Ngajar?”
Teteh cantik itu tersenyum. Senyumnya selalu bisa
menenangkan hatiku yang sering gelisah. Pertemuan kami memang belum lama. tapi
entah kenapa ia selalu bersikap seolah kami adalah teman yang sudah kenal lama.
“Bantu-bantu teteh aja. Sedikit aja kok. kalau teteh
megang anak besarnya, kamu yang anak SD kelas 1,2 ya.”
“Loh, bukannya ada Teh Mia?”
“ada, Teh Mia tetep ada kok. tapi teteh ngerasa butuh
orang lagi. Nah, semenjak teteh liat, Dian bagus ngajinya. Sambil ngaji, sambil
ngajar juga gapapa. Jadi ilmunya lebih bermanfaat.” Teteh ini selalu saja bisa
membujuk lawan bicaranya dengan tutur katanya yang halus.
Beberapa menit aku terdiam. Lalu menggeleng. “Ngga teh, Dian gak pantes.”
“Kata siapa? Ini juga bukan kehendak Teteh aja. Kemarin
teteh udah diskusiin sama Teh Mia, dia juga setuju. Ya? Mau ya?” ia tersenyum lagi.
Jika bukan teteh ini yang ngajak, tentu aku sudah
menggeleng kuat-kuat. Tapi di depannya aku tak enak untuk berkata tidak.
Berkata ya, merasa belum siap. Ia melihat kekhawatiranku. Sekali lagi
diyakinkannya bahwa aku bisa. Katanya tidak perlu talenta dan pengalaman yang
banyak untuk menjadi guru ngaji. Semua
hal itu bisa menyusul, yang terpenting adalah keinginan. Jika
keinginan dan tekad sudah menancap kuat maka halangan apapun tak akan terlalu
sulit terselesaikan.
Aku saat itu tersenyum dalam hati. ‘ini kan bukan
keinginanku. Tapi terpaksa’
Teh Ninit, guru
ngaji kami. Senyumnya manis sekali tapi jangan ada yang sekali-kali mencoba melanggar
perintahnya. Kami akan segera berlari jauh tak ingin melihat mukanya yang
meyeramkan. Dialah orang pertama yang mengenalkanku pada lingkungan masjid.
Masjid Baiturrahman. Bangunan itu tidak terlalu besar tapi cukup membuat kami
nyaman, khususnya saat bercengkerama bersama teman-teman dan teteh-akang yang
baik hati. Teh Ninit dan Teh Mia, mereka yang setia untuk terus berada di
tempat ini. Mengajar a ba ta tsa kepada kami yang butuh bimbingan selain dari
rumah masing-masing.
Selain itu ada juga Kang Imam yang sering mengurus
masjid. Membersihkan masjid, menyapu, menyikat kamar mandi, mengumandangkan
adzan, dan merapikan sandal-sendal. Kang Imam juga biasa menjadi bagian
informasi bagi mereka yang kehilangan sesuatu di masjid, atau orang luar yang menanyakan
arah atau hal yang berkaitan dengan administrasi masjid.
Satu orang lagi. Bocah laki-laki berkulit sawo matang
yang gemar sepak bola. Bocah yang sudah berubah statusnya dari murid jadi
pengajar. Ia sudah tak pantas kusebut ‘bocah’. Saat itu usianya sudah menginjak
18 tahun, usia peralihan dari masa remaja menuju dewasa awal. Suaranya sudah
tak lagi cempreng seperti saat pertama kali ia memperkenalkan diri. Tubuhnya
tegap dan tatapan matanya tajam. Tingginya yang dulu hanya beda beberapa senti
denganku, kini sudah jauh puluhan senti. Bukan hanya mahir dalam sepak bola,
tapi juga berkompeten dimana-mana. Teh Ninit pernah bilang, dia itu
multifungsi. Saat itu aku hanya diam kebingungan. Multifungsi? Mungkin
maksudnya multitalent. Lalu kami tertawa bersama.
Benar saja. Dia adalah seorang yang multitalent. Bukan
hanya dibutuhkan di lingkungan rumahnya sebagai pengajar ngaji dan pengurus
karang taruna, tapi juga di sekolahnya. Baru kutahu dari salah satu temanku
yang satu sekolah dengannya, ternyata dia ketua OSIS! Cukup satu kata untuk
mewakilinya, kece! Aktif di sekolah, aktif juga di rumah. Aku tidak terlalu
tahu dengan bidang akademiknya tapi melihat dia masuk ke salah satu SMA
favorit, pertanyaanku terjawab sudah.
Jika aku menjadi pengajar disini, apa itu berarti kita
bisa sering bertemu lagi?
LIMA
Kabar itu bagaikan petir di siang bolong. Padahal tak
ada hujan tak ada badai, gerimis pun tidak. Langit masih biru tanda ia akan
tetap terang benderang sampai beberapa jam ke depan. Tapi kabar itu terlalu
mengejutkan. Andai kubisa mengembalikan waktu, inginku kembali ke beberapa
detik yang lalu saat belum mendengar ini dan lebih baik tidak mendengarnya sama
sekali.
“Dian, dia mau sekolah ke Cairo.”
Begitu mudah dan ringannya Sasa mengatakan itu, seperti
menyampaikan kabar kalau Pak Deni tidak akan mengajar hari ini.
“oh mau naik
haji? Kapan?”
“Ya ampun di, bukan naik haji ke Arab. Sekolah Di! Ke
Cairo, Mesir!”
Senyumku hilang seketika. “Oh.”
Sasa hanya bengong melihatku yang tidak berespon.
“Diaaan.. aku serius. Asli ga bohong. Aku denger sendiri
dari adik-adiknya, katanya kakaknya mau sekolah di Al-Azhar Cairo, ngambil
Ekonomi Syariah. Sekarang lagi nyiap-nyiapin barangnya, makanya kamu sering
liat dia bolak-balik kan, itu juga sekaligus ngurusin perijinannya. Tesnya udah
beberapa bulan kemaren. Kabarnya penerbangannya dua minggu lagi. Aku catet nih
ya, hari senin tanggal 2 Mei jam sebelas kurang lima belas menit. Nayah, cerdas
kan aku” Seperti biasa Sasa berkata tanpa jeda, ia menutup kalimatnya dengan
tawa, merasa puas mendapat informasi lengkap. Aku hanya mendengar dua kalimat
terakhirnya. Kalimat itu membuat mulutku benar-benar terkunci. Dua minggu lagi?
Mengapa harus secepat itu?
***
Gelas tahu ia
tidak akan bisa berdiri berdampingan dengan cangkir-cangkir di etalase sana, apalagi
si cangkir bermotif sepasang naga. Hanya keajaiban yang bisa mewujudkan hal
itu. Ia berharap seseorang yang membelinya adalah orang yang sama dengan orang yang membeli cangkir
itu. Dengan begitu setidaknya harapan itu kembali muncul. Bisa jadi mereka
ditempatkan di meja makan yang sama. Saat cangkir dipakai oleh seorang ayah,
mungkin ia akan dipakai oleh anaknya. Harapan-harapan itu selalu membayangi
pikirannya. Ketika harapan itu melambung, serasa tubuh ini ringan, akan ikut melambung
juga. Tapi jika harapan itu menghilang, terasa sakit sekali hatinya.
Sebuah teko
menghampiri gelas yang berwajah muram. Pandangannya yang tak lepas pada
cangkir-cangkir di etalase membuat teko
ini tersenyum. Rupanya ia mengerti. Sudah beberapa lama ia berada di
tempat itu, dan memperhatikan gelas yang setiap waktunya ia pakai untuk
memandangi etalase.
“tak usah kau lihat bagaimana rupamu sekarang. Kau dan
mereka semua sama. Sama-sama akan kosong jika tidak diisi olehku dan tidak akan
manfaat. Saat kalian sama-sama tersisi air, maka fungsi kalian pun tentu saja
sama. Yang terpenting adalah bukan bagaimana rupanya, tapi apa yang ada di
dalamnya.
EPILOG
Ponselku berkedip-kedip, tanda sebuah sms masuk. Aku
langsung buru-buru membukanya.
Saya pamit, mohon
doanya. Baik-baik dan sehat selalu.
Hampir terlonjak dari dudukku. Hanya beberapa kata
pendek tapi tak masalah untukku. Mataku terasa hangat, dan mulai memburam,
kupaksa supaya butir-butir ini tidak jatuh sebagaimana mestinya.
Ini bukanlah perpisahan terakhir, aku tahu itu. Ia akan
menuntut ilmu ke negeri sana dan beberapa tahun lagi akan kembali.
Kulayangkan pandangan ke tengah lapang. Pertandingan
basket itu berjalan lagi. Dan para penonton kembali ke tempatnya masing-masing.
Kugenggam ponselku erat.
The end
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSedih bacanya huhuhu
BalasHapusTerimakasih sudah membaca kaka :))
Hapus