Kerang Biru



1 Desember 2007
Hujan deras mengguyur Kota Jakarta. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Hujan deras disertai petir menyambar-nyambar membuat Jakarta, sore itu tampak mencekam. Orang-orang berlarian menghindari derasnya air hujan. Payung warna-warni mulai menghiasi jalanan. Anak-anak kecil bertelanjang kaki berlarian menerobos hujan sambil menawarkan ojeg payung. Di antara semua keramaian itu, tampak seorang anak kecil dengan seragam merah-putihnya dan ransel di pundak berlari-lari kecil menghindari air hujan. Tubuhnya yang kecil mudah sekali untuk disapu air hujan. Namun hujan yang deras, petir yang menyambar-nyambar, halilintar yang bergemuruh, itu semua tidak dihiraukannya. Ia terus berlari menuju rumahnya.
“Ayah, Nadya boleh ngga ikut sama ayah?”
“Ikut kemana Nadya?”
“Nadya ingin jalan-jalan sama ayah, kita terbang ke awan.”
“Tapi Nadya, Ayah harus ke sana. Ayah kesana dulu ya!”
“Ayah.. jangan pergi.. jangan tinggalin Nadya.”
“Dadah.. Nadya…”
“Ayaah…”
2 Desember
“Nadya..Nadya.. bangun nak! Ini Bunda nak.”
Nadya terbangun, rasa perih di tubuhnya tak terkira. Nadya meringis. “Nadya sudah bangun, kamu tidak apa-apa nak?” Bunda menyeka airmatanya. “Bunda, Nadya kenapa?”Tanya Nadya dengan lirih. “Kemarin sore, Bunda menemukan Nadya tergeletak di teras depan. Rupanya Nadya pingsan dan sampai tadi pagi Nadya belum bangun juga.” Jelas Bunda. Nadya dapat melihat kekhawatiran Bunda. “Maafin Nadya Bunda, Nadya udah bikin Bunda khawatir.”
“Nadya tidak salah, Bunda yang salah. Harusnya Bunda menjemput Nadya. Maafin Bunda ya sayang..”
Sudahlah Bun.. eh Bunda, tadi Nadya mimpi ketemu Ayah lho Bunda.” Bunda tersenyum senang melihat sang buah hati kembali ceria.
“Trus trus ya Bunda, Ayah mau ajak Nadya terbang, tapi.. Ayah ninggalin Nadya.. “ matanya kembali redup. “Hik..Hik.. Nadya kangen Ayah, Bunda..”
“Sudah Nak..” Bunda memeluk Nadya erat. Ya Allah.. badan Nadya panas sekali, semoga tidak apa-apa dengannya, doa Bunda dalam hati. Nadya tidur dalam kehangatan.
3 Desember
Suhu badan Nadya belum juga turun. Dia terlihat semakin lemah. Badannya pun semakin kurus. Bunda selalu setia menemani Nadya. Hingga suatu malam.
“Hik..hik..”
“Nadya, ada apa sayang?”
 “Nadya..hik.. kangen Ayah..hik hik..”
Bunda terdiam. Sungguh pilu nasibnya. Masih duduk di bangku SD Nadya sudah ditinggalkan oleh Ayahnya dan hanya kini hanya tinggal berdua dengan Bundanya. Bunda merasakan matanya memerah. Tidak! Aku harus kuat! Aku tidak boleh menangisi apa yang sudah terjadi, tekad Bunda dalam hati.
“Bunda”
“ Ya?”
“Allah itu sayang sama Ayah ya? Buktinya Allah cepat-cepat memanggil Ayah.” Bunda mengangguk. “Kalau begitu Nadya ingin disayang Allah biar bisa ketemu Ayah.”
“Nadya.. jangan berkata begitu. Kalau Nadya pergi, Bunda sama siapa?”
“Bunda juga ikut sama kita.”
“Eh Nadya, udah malem tuh. Tidur ya sayang”
“He eh. Biar Nadya bisa ketemu Ayah. Udah ya Bunda.. dadah..”
“Selamat tidur nak.. cepat sembuh ya..” Nadya tidur dengan senyuman.
6 Desember
Kecipak..kecipak.. langkah kaki Nadya. “Bunda..Bunda.. asyik deh, disana banyak kerang. Nadya dapet banyak lo Bunda!” teriak Nadya kegirangan. “Nadya.. jangan pergi jauh-jauh! Kamu baru sembuh.” “Ngga ko Bun, Nadya Cuma ke situ. Nadya cari kerang lagi ya..”
Bunda tersenyum. Akhir-akhir ini kesehatan Nadya cukup membaik. Suhu badannya sudah kembali normal. Saat ini mereka sedang bermain-main di pantai.
“Lihat Bunda, kerang-kerangnya lucu deh!” “Mana mana?” Bunda penasaran. “Itu tuh.. yang itu, lucu kan??” “Wah..iya, lucu banget! Bunda suka yang itu lo Nad!” “Iya bener? Bunda suka yang itu? Kalau gitu Nadya ambilin ya Bun..” “Hati-hati!” teriak Bunda di sela lari kecil Nadya.
“Wah.. indah banget! Lihat deh Bunda, matahrinya udah mau tenggelam.” Nadya berkata takjub. “Subhanallah.. iya, indah banget.” Bunda menggenggam erat tangan Nadya, mengajak untuk mendekat. “Bunda, Nadya seneng deh denger suara ombak ini, lihat matahari tenggelam lagi. Nadya seneng..banget!” Bunda tersenyum. “Bunda juga seneng bareng Nadya.” “Sayang ya Bunda, Ayah ngga bareng kita.” Nadya teringat Ayahnya kembali. Hening.
Mereka duduk di atas pasir yang putih, menyaksikan matahari tenggelam.
“Bunda, awan itu putih ya, lembut kaya kapas. Ingin deh Nadya kesana.”
"Lo kenapa Nad?" tanya Bunda heran.
"Nadya ingin ketemu ayah.. ntar kita bertiga main-main di atas sana. kayanya asiik..deh."
Bunda tersenyum. dia membelai lembut kepala Nadya. angin sepoi-sepoi menyapu wajah keduanya. "Brr... dingin.. Kita masuk yuk Bunda." Nadya menggigil 
"Yuk"


7 Desember

            Seharian bermain di pantai, Nadya kembali ‘drop’. Kesehatannya kembali menurun.
Nadya terlihat lemah…sekali di atas ranjang. Bunda memegang erat tangan Nadya yang panas. “Bunda..Nadya seneng… banget, bisa bareng-bareng sama Bunda kemarin, Bunda seneng ngga?”
Bunda tersenyum. Mencoba untuk menahan rasa sedihnya. Tadi kata dokter, Nadya sering kecapaian akibat aktivitasnya yang banyak terus Nadya jarang makan, makanya Nadya sering sakit-sakitan.
“Bunda, kok Nadya pusing banget ya?” Nadya mencoba bangun.
“Makanya Nadya jangan bangun dulu ya, tidur aja, istirahat.”
Nadya mengangguk, ia merebahkan tubuhnya kembali.

***

“Nadya….”
“Ayah? Ayah kan? Ayahh…”
“Sini sayang…”
“Nadya mau ikut Ayah.”
“Sini…sini..”
“Tapi…bunda…”
“Nadya..Nadya…”
8 Desember
“Nadyaa…”
Nadya terbangun dari mimpinya. Rupanya tadi Bunda yang memanggil-manggilnya, membangunkan Nadya dari mimpi indah.
“Bunda..Nadya mau ikut Ayah, tapi Nadya mau pamit dulu sama Bunda.”
“Nadya, kamu ngomong apa? Sadar Nadya!” Bunda panic
“Nadya ngga apa-apa Bunda, kayanya Allah udah menakdirkan…” air mata Bunda mulai turun, semakin deras.
“Bunda, jangan nangis.” Bunda menyeka air matanya.
“Eh Bunda, Ayah udah ngejemput. Nadya kes.. kesana..dulu…ya…Bunda…”
Genggaman Bunda terlepas.
Nadyaa…..”

***
            Bunda memperhatikan kerang kebiru-biruan itu. Indah…sekali. Satu-satunya kenangan dari Nadya. Teringat saat mereka bermain-main di pantai. Tergambar jelas dalam ingatan bunda. Wajah lucu Nadya tergambar di kerang dalam genggamannya. Bulir-bulir air mata mengalir deras dari kedua pipinya.
            ***

Bunda..awan itu putih ya, lembut kaya kapas. Ingin deh Nadya kesana. Kayaknya asiik..banget.’
Nadya..kamu ngga mau liat Bunda nangis kan? Tapi kenapa kamu tinggalin Bunda sendiri?

Nadya..sudahkah kamu ke awan sana?


the end



nb: Hhm.. kayanya cerpen yang satu ini terilhami dari sebuah buku karya Kak Eka Wardhana, yang judulnya "Nadia" tuh kan, nama tokoh utamanya juga sama, haha :D
soalnya aku suka buku ini. tapi bukan novel, komik

cerpen ini aku buat kelas 1 smp, 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seteru Satu Guru